• Close Menu
  • Home
  • Category
    • Building
    • Cinematic
    • Creative
    • Landscape
    • Nature
    • Technology
    • Vintage
  • Codes
    • CSS
    • ColdFusion
    • Fireworks
    • JavaScript
    • Lasso
    • PHP
    • SQL
    • VBScript
  • Other
    • Sub 1
    • Sub 2
    • Sub 3
    • Sub 4
    • Sub 5
  • Donasi
    • Donasi

Warehouse

Menu
  • Home
  • Static Page
  • Dropmenu
    • Dropmenu 1
    • Dropmenu 2
    • Dropmenu 3
    • Dropmenu 4
    • Dropmenu 5
  • Dropmenu
    • Dropmenu 1
    • Dropmenu 2
    • Dropmenu 3
    • Dropmenu 4
    • Dropmenu 5
  • Dropmenu
    • Dropmenu 1
    • Dropmenu 2
    • Dropmenu 3
    • Dropmenu 4
    • Dropmenu 5
  • Button
  • Error
  • Surprise Me
Home belajar menulis project warfare prolog

prolog

Prolog


Project warfare



Mereka menyebutku prajurit terkuat


"ah cuacanya mulai memburuk"


hujan mulai deras jarak pandang menjadi terbatas karena terhalang kabut asap yang tebal.


"aku kembali saja sekarang"


saking derasnya hujan aku hampir tidak bisa melihat  sekeliling, tapi meski samar aku masih hafal jalan yang telah ku lalui, sekarang aku akan kembali menuju dimana rekan-rekan ku berada.


entah kenapa ada perasaan yang membingungkan yang ku rasakan sekarang, apa ini keraguan?, ketakutan?, kekhawatiran? aku tidak tahu.


tidak perlu di pikirkan yang penting sekarang selesaikan misi dan pulang bersama-sama.


"!"


apakah aku sudah menginjak sesuatu? sesuatu yang agak licin dan lunak pandanganku masih kabur tapi aku coba fokuskan mata ku ke benda itu.


"ini.."


seketika dadaku sesak saat melihatnya emosiku campur aduk pikiran ku mulai kacau.


tidak percaya, percaya, mungkin, tidak mungkin, hal seperti itu terus berputar di kepalaku seolah-olah mataku memaksa untuk percaya tapi pikiran ku tidak.


ya iniliah kenyataanya benda yang ku lihat itu adalah kaki tanpa sisik, tanpa kuku yang tajam dan tidak berwarna hijau,

ini adalah kaki manusia yang berlumuran darah, lebih tepatnya potongan kaki manusia, yang ternyata bagian tubuh rekanku.


"brengsek"


aku melihat makhluk itu dengan jelas aku melihat di mulutnya tubuh manusia yang terkoyak.


aku bahkan tidak mendengar jeritan rekan-rekanku hanya ada suara decakan mulut makhluk itu yang sedang mengunyah bagian tubuh tanpa memperdulikan sekitarnya.


sudahlah tidak perlu berharap lagi ini sudah terjadi dari kenyataan yang ku lihat, aku sudah tidak punya harapan ada yang masih hidup bahkan aku berharap tidak ada yang harus pulang dari sini hidup-hidup.


"oi jangan mengabaikan ku brengsek"


aku melompat dan menebaskan pedangku ke leher makhluk itu dengan kuat, ya aku berniat memenggalnya.


darah yang menyembur dari leher yang ku penggal aku melihatnya aku merasa puas aku ingin melakukannya lagi.


"aku pinjam ini"


aku mengambil pedang yang tergeletak di tanah dan menggegamnnya di tangan kiriku


ada 10 jumlah makhluk itu yang sekarang bergerak ke arahku ya akan ku habisi semua akan ku penggal kepalanya.


aku terus mengayunkan pedang di tangan kanan dan kiriku dengan sekuat tenaga kulit telapak tanganku yang terkelupas akibat mencengkram, bahkan aku tidak merasakannya hanya ada darah yang licin di telapak tanganku yang membuat ku terganggu.


makhluk itu terus berusaha ingin menerkamku tapi lagi-lagi kepalanya berhasil ku penggal.


1 kepala


2 kepala


4 kepala


aku kadang memotong tubuh mereka menjadi 3 bagian, ya ini sangat memuaskan aku seperti menari dan berputar-putar dengan bebas, sejenak aku berhasil melupakan rekan-rekan ku.


9 sudah ku habisi kepala mereka tergeletak dimana-mana bahkan ekor mereka yang terpotong masih bergerak, ya mereka makhluk sejenis kadal yang menjijikan kalau aku tidak berhasil memenggal kepalanya mungkin mereka akan tumbuh lagi, aku tidak berusaha untuk menusuk nya dan menyuntikan vaksin yang ada di pedangku ini, aku bertarung dengan gayaku sendiri.


tinggal 1 lagi dan itu sangat besar dia seperti boss  yang menyuruh anak buahnya untuk menyerang dan dia mengamati dari belakang, semakin besar semakin terbakar semangatku untuk memenggalnya segera.


"oi pengecut sampai kapan kau akan berdiam diri di situ, apa hanya segini jumlah anak buahmu? bahkan aku tidak perlu memakai satu tetes vaksin pun dasar bodoh"


kami bersamaan maju untuk saling menyerang, aku berniat memenggalnya dengan 1 kali tebasan.


makhluk yang tidak berakal hanya menyerang dengan instingnya saja, makhluk itu hanya berusaha untuk melahapku dengan menggunakan rahangnya yang lebar dan giginya yang tajam.


aku menargetkan lehernya tapi pedangku tidak mampu menembus kulitnya, ini berbeda dari yang lain kulit nya sangat keras aku tidak bisa menembusnya tapi apa mungkin karena kekuatan ku yang sudah berkurang? yang benar saja!.


saat makhluk itu membuka mulutnya aku menahan kedua mulut bagian atas dan bawahnya dengan kuat aku mendorongnya dengan tangan kananku ke atas dan tangan kiriku ke bawah, aku tidak bisa memenggalnya jadi akan ku patahkan saja rahangnya.


kami saling adu kekuatan jika aku kalah kedua tanganku akan terputus tapi jika aku menang rahang makhluk itu akan patah dan dia tidak bisa mengunyah apapun lagi jadi saatnya mengerahkan semua tenaga.


"kau sudah cukup puas memakan rekan-rekan ku kan, selama aku tidak di sini kau bersenang-senang kan? sekarang sudah waktunya kau menderita  biarkan aku mematahkan rahangmu berengsek!"


KREK.. TRAK...


rahangnya patah mulut bagian bawahnya terayun-ayun di penuhi darahnya sendiri bahkan mahkluk itu tidak bisa mengeluarkan suara apapun, sementara itu aku memotong kakinya supaya dia tidak bisa bergerak lagi lalu aku melompat ke atas punggungnya dan menancapkan pedangku dengan kuat dan menekan pelatuknya. 


meteran gas vaksin yang terlihat di pedangku mulai memutarkan jarumnya menandakan gas nya sudah terkuras dan akan habis.


aku berniat menyuntikan gas ke tubuh nya sampai gas nya kering, perlahan makhluk itu tenang dan berhenti memberontak asap mulai keluar dari mulut dan hidungnya gas itu mulai menyebar menggerogoti organ dalamnya.


karena banyak yang masuk sampai tubuh makhluk itu tidak mampu untuk menampungnya.


aku menghampiri satu persatu mayat rekan-rekan ku dan mengambil simbol bunga lotus yang apabila di balikan di situ tertulis identitas pemiliknya.


mereka menyebutku prajurit terkuat tapi mereka keliru.


mereka tidak tahu kalau kekuatanku hanya cukup untuk melindungi diri ku sendiri aku tidak bisa melindungi siapapun aku tidak bisa menyelamatkan satu orangpun bahkan orang yang berharga dalam hidupku. apanya yang terkuat kalian terlalu melebih-lebihkannya.


pada akhirnya aku pulang sendirian lagi, diriku yang pengecut sempat berpikir untuk tidak pulang hidup-hidup tapi itu hanya pemikiran orang lemah yang ingin lari dari masalah dan tanggung jawab, mereka yang mati ingin hidup, mereka yang sakit ingin sembuh karena itu tidak ada alasan yang hidup ingin segera mati.


selama aku masih hidup aku tidak akan mundur jika yang terjadi hanya sebuah ke gagalan dan ke gagalan maka akan ku habiskan semua ke gagalan itu, karena itulah aku harus tetap hidup.


"aku berjanji aku tidak akan mengecewakan kalian yang menyebutku prajurit terkuat"





Berserker
Add Comment
belajar menulis, project warfare
Friday, October 30, 2020
  • Tweet
  • Share
  • Share
  • Share

Related Posts

Comments


EmoticonEmoticon

Labels

Powered by Blogger.

About

Copyright © 2019 Warehouse All Right Reserved
Created by Arlina Design