udara dari panas mulai terasa dingin, bayang bayang benda berada di sebelah timur serta tampak lebih panjang, hari mulai menjadi gelap.
ya ini adalah sore hari dimana aku selalu berjalan-jalan di alun-alun kota yang indah dan damai, banyak orang-orang yang berlalu lalang, kursi taman yang menghiasi alun-alun penuh dengan pasangan-pasangan muda yang tampak senang membicarakan sesuatu, serasa dunia milik berdua, begitulah istilah yang sering ku dengar.
yah hari ini aku tidak kebagian kursi lagi, ngomong-ngomong aku berjalan sendiri bukan berarti tidak punya teman atau semacamnya tapi aku memang sengaja meluangkan waktu ku sendirian seperti ini.
di dalam tembok besar, berjalan-jalan sendiri tidak masalah, ini sangat aman bahkan tingkat kejahatan yang terjadi selama ini hanya tercatat 1% saja, itu nyaris tidak ada sama sekali.
suara yang tidak asing terdengar dari arah belakang, ah itu teman sekelasku.
"eh..kenapa kamu berlari-lari seperti itu?"
"huh dasar.. aku sudah memanggilmu dari tadi tau"
"ah benarkah? maaf- maaf aku tidak mendengarnya ahaha"
aku menempelkan tangan kanan ke tangan kiriku sebagai permohonan maaf.
"dasar... kamu mikirin apa sih sampai tidak mendengar orang yang memanggilmu?"
dia tidak membalas permintaan maaf ku malah menanyakan hal itu dengan ekpresi cemberut, kelihatannya dia masih kesal.
"tidak ada, mungkin hanya suara mu saja yang kurang keras"
"hm...itu tidak masuk akal aku yakin kamu memikirkan sesuatu..Ah jangan-jangan kamu mulai memikirkan lelaki idaman ya..."
"Hah?.. tentu saja tidak seperti itu dasar mulut ember!"
aku mencubit kedua pipinya dengan kuat sampai berubah menjadi merah, rasanya seperti membuat adonan kue.
"awh..aw.. hentikan sudah hentikan sakit tau!"
"ahahaha itu lucu sekali lihat pipi mu mengembang!"
dia terus mengelus-ngelus pipinya yang sekarang berubah warna menjadi ke merah-merahan aku ingin mencubitnya lagi tapi.
"ah iya sebenarnya ada apa kamu memanggilku?"
dia masih mengelus pipinya, mungkin aku terlalu berlebihan, ah aku tinggal teraktir saja besok beres deh tidak perlu menyesal!.
"ahmm.. em ini ada sesuatu yang ingin ku bicarakan padamu"
"aku menemukan seseorang dari luar tembok!"
untuk sampai ke tempat seseorang yang teman ku katakan kami harus menaiki kereta karena jaraknya yang lumayan jauh, berada di sebelah barat dan sangat dekat dengan tembok, kemungkinan kami akan sampai di malam hari.
"hey apa harus pergi sekarang juga, kita bisa pulang kemalaman lho"
"iya!, kalau yang kamu katakan benar, harusnya sekarang waktu yang tepat untuk menemuinya".
seseorang yang temanku katakan dia bekerja sebagai pemimpin proyek pembuatan jalan di barat yang menuju distrik pertanian, kemungkinan saat kami tiba mereka sedang beristirahat, waktu yang pas untuk menemuinya.
kereta sudah berhenti kami bergegas menuju tempat para pekerja itu, untungnya tidak jauh dari stasiun kereta jadi kami tidak perlu berjalan terlalu lama.
kami melihat-lihat ke sekeliling memang di situ banyak alat-alat berat dan papan yang terpampang dengan tulisan seperti selogan
" bersama kuli membangun negeri"
menurutku itu cukup menarik.
"ah itu dia, itu orangnya!"
"itu dia yang besar dan berotot"
beruntung kami langsung menemukannya, dia tampak menuju kemari menghampiri kami.
"apa yang di lakukan 2 orang gadis kecil malam-malam di sini?"
sebelum kami sempat menjawab, dia langsung berteriak ke arah pekerja lainnya yang sedang beristirahat.
"hey apa kalian yang membawa gadis ini ke sini, cepat katakan siapa yang menyewa!"
"ah tidak, kami tidak tahu apa-apa dan tidak mungkin kami melakukan itu pak!"
kesan pertamaku pada paman itu sangat buruk, jujur saja dia menyebalkan dan menyakiti perasaan kami.
"hei paman itu tidak sopan sekali!, kami marah"
"hahaha maaf-maaf aku berpikiran buruk. soalnya untuk apa gadis manis seperti kalian di sini malam-malam, apa orang tua kalian tau?"
"eeh orang tua kami..err ah itu ti..tidak perlu!, tapi ada hal penting yang ingin kami tanyakan!"
"ho..jadi begitu ya orang tua kalian tidak tahu, dasar anak nakal"
"haa..bu-bukan begitu kami tidak sempat meminta izin kepada orang tua kami, ini sangat mendadak dan keadaan darurat! mohon di mengerti!"
"dasar anak-anak jaman sekarang, baiklah tapi aku tidak bisa berlama-lama, ini waktu istirahat kami yang berharga, kalian mengerti kan kami masih punya pekerjaan"
"tentu saja!, kami tidak akan lama dan maaf sudah menggangu"
paman itu setuju untuk mendengarkan apa yang ingin kami tanyakan, dan menuntun kami ke tempat yang agak jauh dari orang-orang yang ada di sana, entah kenapa aku merasa paman itu tau tujuan kami.
"baiklah apa yang ingin kalian tanyakan"
setelah mempersilahkan kami duduk dia mulai berbicara langsung ke inti tanpa basa-basi.
"pertama, apa benar paman berasal dari luar tembok?"
"apa maksudmu dari distrik pabrik?"
"tidak, bukan itu, maksud ku benar-benar dari luar bukan dari distrik pertanian maupun pabrik"
"kenapa kalian menanyakan hal itu kepadaku?"
"ayah teman ku ini adalah seorang jurnalis bahkan aku tau keberadaan anda dari temanku ini, dan dia melihat anda yang keluar dari gerbang arah barat bukan kah itu gerbang yang hanya di gunakan oleh pengungsi saat bencana dahulu, itu artinya anda bukan dari distrik pabrik maupun pertanian"
"selain itu ayahku adalah seorang ketua polisi, dan aku tahu semua orang yang ada di dalam tembok, distrik pertanian dan pabrik dari data ayahku yang tidak sengaja aku dapatkan"
sebenarnya aku mencuri data itu dari komputer ayahku.
"apa yang kalian tahu tentang keadaan di luar tembok?"
"yang umum orang tahu dan informasi yang di publikasi oleh pemerintah, di luar terdapat banyak makhluk mengerikan yang di sebut dmyth semenjak bencana terjadi, dan mereka memangsa apapun yang ada"
"tidak mungkin ada manusia di luar tembok yang selamat bukan?"
"iya kami sudah tahu ke ganasan para dmyth tapi dari yang aku lihat paman bukan berasal dari distrik pabrik maupun pertanian, aku tau semua data pekerja dan produk yang di hasilkan dari ke 2 distrik itu dan 100% akurat, berkat ayah temanku ini yang jurnalis dan data pemerintah yang ada di tanganku"
sedari tadi terdiam cukup lama akhirnya temanku mengikuti pembicaraan.
"semenjak kemarin aku memperhatikan paman, anda sering keluar masuk tembok dengan membawa peralatan yang aneh bukan?, seperti pedang besar yang di lengkapi tabung gas aku tidak tau untuk apa paman membawa itu ke dalam tembok tapi itu bukan sesuatu yang di ciptakan distrik pabrik, tidak ada data yang tertulis soal itu"
"ah itu aku hanya kebetulan suka membuat kerajinan tangan dari besi-besi bekas, hanya karya untuk pajangan saja"
"tapi aku melihat itu bukan sekadar untuk pajangan, dari mekanismennya seperti mempunyai banyak fungsi dan bukan dari besi rongsokan, itu seperti di buat dari material khusus atau langka"
"itu benar paman, bagaimana kalau dugaan temanku benar kalau ternyata itu senjata asli, sepertinya itu bukan di buat untuk melawan manusia?"
kami menatap paman itu dengan penuh curiga dan keyakinan, berharap paman itu segera mengatakan hal yang sebenarnya.
"hmmm..sepertinya kalian cukup jeli juga ya, tapi kalau misalkan aku benar berasal dari luar tembok untuk apa hal ini?, kelihatannya kalian masih pelajar tidak mungkin kalau ini tugas sekolah kan"
"iya memang kami masih duduk di bangku sekolah, tapi kami ingin mengetahui lebih banyak tentang dunia ini. hal yang membuat ku penasaran adalah kehidupan di dalam tembok, orang-orang di sini hidup aman dan nyaman semua di fasilitasi oleh pemerintah bahkan rakyat biasa yang pengangguran pun dapat gaji setiap bulannya, kebutuhan primer dan skunder di tembok ini terpenuhi dengan baik, kasus kejahatan pun hampir tidak ada sama sekali".
"bukankah itu bagus, kalian bisa hidup tenang di dalam tembok, lalu apa yang jadi masalahnya?"
"seperti yang kita ketahui di luar tembok banyak dmyth yang berkeliaran, tapi aku belum mendengar ada satu pun dari mereka yang bisa sampai ke tembok, ada kemungkinan kalau dmyth sudah musnah, lalu siapa yang memusnahkannya. selain itu ada aturan untuk warga agar tidak ada yang keluar dari tembok atau akan di jatuhi hukuman yang berat berlaku untuk kepolisian juga. kalau di luar sudah aman kenapa mereka melarang kami keluar?"
paman itu menunjuk ke arah langit barat ke tempat meriam besar raksasa berdiri, meriam yang sangat besar di tanam di atas tembok barat, timur, selatan dan utara.
"kau bisa melihat itu dengan jelas kan itu sudah cukup untuk menjawab kenapa dmyth tidak ada yang mencapai tembok, selama meriam itu masih beroprasi, di luar tembok tidak bisa di pastikan aman"
"tidak paman, selama ini meriam itu tidak pernah menembakan peluru, sekali pun kami belum pernah mendengarnya, mustahil kami tidak bisa mendengar suara tembakan meriam sebesar itu kan?"
alis paman itu terlihat mengerut tampaknya dia sedang berpikir keras.
"ah baiklah kita akan serius sekarang jadi apa yang sebenarnya ingin kalian ketahui ceritakan semuanya padaku?"
sepertinya paman itu tidak bisa mengelak lagi, baiklah ini kesempatan emas!.
"aku pernah menanyakan hal ini kepada ibuku dia adalah seorang penulis novel fiksi ilmiah, pada waktu itu aku menanyakan tentang bencana yang terjadi di masa lalu.
menurut informasi yang ada, di dalam tembok ini sebagian besar adalah pengungsi, mereka orang-orang yang tidak terjangkit virus yang di sebabkan ledakan bencana dahulu yang di ijinkan tinggal didalam, sedangkan orang-orang yang terjangkit di larang masuk mereka menyebut nya orang yang terinfeksi. lalu kemana perginya orang-orang yang tidak di izinkan tinggal di dalam tembok ini"
saat aku bercerita aku melihat temanku mengambil sesuatu dari ranselnya itu minuman kaleng, sepertinya teh manis dan memberikannya padaku dan paman itu, seperti menunjukan kalau pembicaraan ini akan lama dan paman menerima tehnya sepertinya dia setuju untuk mendengarkan lebih lama.
sembari membuka tutup kaleng teh manis aku melanjutkan.
" lalu ibuku menjawab dengan teorinya sendiri awalnya dia kebingungan dan hanya menjawab sedikit, [mungkin apa yang kita rasakan dan nikmati sekarang berkat pengorbanan mereka, sebenarnya ibu juga tidak tahu dan ibu yakin ayahmu yang bekerja sebagai abdi negara pun tidak mengetahuinya biarpun dia ingin tapi tidak bisa, ada hal yang tidak boleh kita ketahui di dunia ini mungkin itu harga yang harus kita bayar untuk kedamaian yang kita dapat sekarang].
hanya itu yang ibuku katakan tapi itu tidak cukup untuk menghapus rasa penasaran ku".
aku merasa tenggorokan ku kering aku memutuskan untuk meneguk teh dulu sebentar.
"lalu aku menyimpulkan sendiri apa yang di katakan ibuku soal pengorbanan mereka mungkin kah mereka sudah mati karena tidak di izinkan masuk ke dalam tembok, atau ada tembok lain di luar sana?, mungkinkah para pekerja kasar di distrik pertanian dan pabrik itu adalah orang-orang terinfeksi?, karena seperti yang kita ketahui yang bisa masuk ke sana hanya orang-orang pemerintahan saja, meskipun di izinkan, tidak ada orang yang mau datang ke sana karena hanya di dalam tembok satu-satunya tempat yang terjamin keamananya. dari data penduduk yang ada tidak mungkin pemerintah bisa mengelola lahan seluas itu sendiri bahkan dengan semua jumlah orang-orang di dalam tembok, itu lahan yang terlalu luas, tapi kita selalu menerima barang itu dari pemerintah untuk di jual kembali ke pasaran"
"ada isu yang beredar kalau mereka yang terinfeksi sudah menjadi dmyth meski begitu, itu hanya isu bahkan tidak ada seorangpun yang bisa memastikan hal itu".
"jadi paman, apa yang di katakan nya benar?, soal orang-orang yang terinfeksi itu mungkin masih hidup dan menjadi pekeja kasar?"
ucap temanku menambahkan.
"kalau misal itu benar apa yang bisa kalian lakukan, apa itu penting untuk kalian yang sudah hidup nyaman di sini?"
"kami bisa menyebarkan berita ini, bukankah kalau terus di rahasiakan ini adalah ke tidakadilan untuk mereka?"
"kita memang hidup nyaman di sini tapi bukankah ini seperti menari di atas penderitaan orang lain? aku tidak bisa membiarkan hal itu".
aku menambahkan jawaban temanku
kalau semua itu benar ini adalah kebenaran yang menyakitkan. kedamaian, kenyamanan dan keindahan yang kami miliki rasanya seperti hasil dari memakan bangkai saudara sendiri.
"lalu apa orang tua kalian tidak melarang untuk menanyakan hal ini?"
"itu... memang benar waktu itu ibuku melarang membahasnya lagi"
"begitu pun dengan ayahku dia melarang ku juga"
"karena itu kami bertindak sendiri dan berhenti menanyakan hal itu kepada orang tua kami".
" hm jadi begitu ya mau bagaimana lagi sudah jadi sifat alami manusia dengan rasa keingintahuan yang besar, aku mengerti itu"
setelah mengatakan itu paman berdiri dan mengambil jaket kulitnya yang tebal sepertinya dia akan pergi.
"aku tidak akan mengatakan secara detailnya aku hanya bisa mengatakannya dengan singkat apa yang kalian ceritakan tadi itu... mungkin sebagian benar"
kami terkejut mendengar hal itu sekaligus aku menyadari satu hal, dibalik pemerintahan sebuah negara,
tidak semua hal akan di ungkap ke publik baik dan buruknya hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya entah kita warga sipil yang bodoh atau di bodohi.
"tapi dengar baik-baik mengetahui sampai sejauh itu sangat berbahaya, setelah ini sebaiknya kalian tetap diam jangan melakukan apapun, kalian tidak akan mampu merubah apapun sekarang, pulanglah dan nikmati waktu bersama orang tua kalian"
"jadi paman menyuruh kami untuk tetap bungkam?, di saat mereka semua tersiksa?"
"tersiksa? kalian masih tidak tahu apapun, itu hanya hayalan kalian saja!"
"kami memang tidak pernah melihatnya langsung tapi kami akan terus berusaha mencari kebenarannya jangan hentikan kami paman!"
"lakukan saja tapi sebelum itu mungkin kalian sudah mati"
mendengar itu kami terkejut.
"apa kau sudah membaca novel ibumu yang terbaru?, 2hari yang lalu itu di rilis. di dalam nya banyak menyinggung soal apa yang ada di balik tembok, sebelum terlambat sebaiknya kau bergegas untuk menghentikannya dan hancurkan salinan nya"
aku terkejut dari mana paman itu tau soal hal ini, aku memang belum sempat membacanya tapi kenapa.
"aku tidak mengerti kenapa paman menyuruhku melakukan itu"
"lakukan saja jika kau ingin menyelamatkan keluargamu, kalau kalian tidak bisa melakukan nyaurungkan saja niatmu itu, sekarang pulang lah"
paman itu pergi meninggalkan kami dengan mengucapkan hal yang tidak bisa kami terima.
jam menunjukan pukul 00.00 ini sudah tengah malam, suasana menjadi hening, udaranya sangat dingin, aku tidak membawa pakaian hangat karena mendadak, rasanya suhu dingin ini menusuk ku.
"sebaiknya kita pulang, sekarang kamu menginap di apartemen ku saja karena tidak ada kereta yang akan lewat di tengah malam begini"
"baiklah aku akan menginap di apartemen mu, udaranya semakin dingin, aku bisa membeku berlama-lama di sini"
aku mengambil handphone dari saku, banyak panggilan tak terjawab itu dari ibu, sepertinya dia mengkhawatirkanku lalu aku mengirim pesan teks pada ibuku [aku akan menginap di rumah seorang teman malam ini, karena ada tugas sekolah].
lokasi apartemen temanku tidak jauh dari sini karena dia tinggal di daerah ini, berbeda dengan ku yang tinggal di kawasan pemerintah, tepat berada di tengah-tengah tembok.
kamar temanku hangat dan bersih aku menjatuhkan diri ke kasur yang empuk aku benar-benar sangat lelah.
"hey arsyila soal paman itu.."
"ya kita tau sedikit kebenaran yang ada di balik tembok, sepertinya di luar sana masih ada yang masih hidup dan mungkin selama ini mereka merahasiakan itu dari kita, itu mengerikan"
"ti-tidak bukan itu maksudku, paman itu mengatakan ini berbahaya bukan kah sebaiknya kita..emm..um.. berhenti sampai sini saja!"
"tidak mau, aku tidak akan berhenti! lagipula paman itu seperti menggertak saja, agar kita berhenti bertanya lebih banyak lagi, selanjutnya aku tidak akan membiarkannya lolos"
"t-tapi bagaimana kalau seandainya itu benar, aku tidak mau ada hal buruk terjadi padamu"
"kalau begitu sampai kapanpun kita tidak akan tahu hal yang sebenarnya apa yang ada di luar sana, dan kalau dunia luar benar-benar sudah aman mungkin itu tempat yang sangat indah, sekarang aku merasa seperti burung yang hidup di dalam sangkar"
ya itulah tujuan ku yang sebenarnya aku tidak peduli dengan hal lain aku hanya ingin terbang bebas ke sana kemari aku ingin tahu luasnya dunia ini!.
"lalu bagimana dengan orang-orang yang terinfeksi, apa benar mereka masih hidup?"
"aku tidak tahu, menurut ku mereka sudah mati, karena virus yang berada di tubuhnya atau virus itu bermutasi dan mereka berubah menjadi dmyth, menurut mu dari mana mereka berasal kalau bukan dari virus itu?"
sejujurnya, dari awal aku tidak ingin mempercayai kalau mereka masih hidup, dan dugaan kami tentang mereka semoga tidak benar, aku tidak ingin mempercayai itu.
"iya aku juga berpikir begitu mereka terinfeksi dan tanpa ada perawatan yang baik apalagi tidak ada vaksin yang di temukan, rasanya sulit untuk bertahan hidup".
apa yang di katakan temanku masuk akal, jadi mari kesampingan dulu, selain itu ada yang masih menggangu pikiranku.
" hey fira apa bagimu di dalam tembok ini cukup luas"
"bagiku sendiri ini sangat luas dan aku merasa cukup senang tinggal di dalamnya"
"lalu bagimana dengan beberapa tahun kedepan, jika angka kelahiran naik mungkin tembok ini akan terasa sangat sempit, apa yang akan di lakukan pemerintah"
"hwahh... aku tidak berpikir sejauh itu, sudah lah sekarang ayo kita tidur"
sepertinya temanku sudah mengantuk dia mematikan lampunya dan tidur di sampingku, ah sebaiknya aku juga tidur, aku tidak sabar untuk besok, aku akan membaca novel ibu ku yang paman tadi katakan, mungkin akan ada hal yang lebih menarik lagi!.