• Close Menu
  • Home
  • Category
    • Building
    • Cinematic
    • Creative
    • Landscape
    • Nature
    • Technology
    • Vintage
  • Codes
    • CSS
    • ColdFusion
    • Fireworks
    • JavaScript
    • Lasso
    • PHP
    • SQL
    • VBScript
  • Other
    • Sub 1
    • Sub 2
    • Sub 3
    • Sub 4
    • Sub 5
  • Donasi
    • Donasi

Warehouse

Menu
  • Home
  • Static Page
  • Dropmenu
    • Dropmenu 1
    • Dropmenu 2
    • Dropmenu 3
    • Dropmenu 4
    • Dropmenu 5
  • Dropmenu
    • Dropmenu 1
    • Dropmenu 2
    • Dropmenu 3
    • Dropmenu 4
    • Dropmenu 5
  • Dropmenu
    • Dropmenu 1
    • Dropmenu 2
    • Dropmenu 3
    • Dropmenu 4
    • Dropmenu 5
  • Button
  • Error
  • Surprise Me
Home belajar menulis Original character project warfare Lumi Leonarde

Lumi Leonarde




Awan gelap mulai berkumpul di atas langit-langit distrik pemukiman. Semua orang yang berjualan segera memasukan barang dagangan mereka kembali dan bersiap untuk pulang kerumah. Tidak seperti seorang gadis kecil yang duduk bersender di dinding yang dingin sambil memeluk kedua lutut. Ia tidak punya rumah atau seorang pun yang ia kenal, sampai suatu hari seseorang menghampirinya.

“Ingin pulang bersamaku?” ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Gadis kecil itu hanya melihatnya sebentar. Di usianya yang berumur 3 tahun dengan pemikiranya yang masih polos, ia pikir tidak punya apapun selain gang sempit kumuh yang ia tinggali. Jadi tidak masalah baginya untuk mempercayai orang asing yang baru ia temui. Karena tidak akan ada seorang pun yang akan pergi mencarinya. Gadis kecil itu akhirnya ikut mengulurkan tanganya.

Setelah beberapa menit berjalan bergandengan tangan, mereka berdua tiba di suatu tempat tujuan. Rumah kayu yang cukup luas dengan sedikit halamanya yang berada di depan jalan. Orang itu menunduk menyamakan tingginya dengan gadis kecil.

“Disaat kita bertemu lagi, jagalah buku ini baik-baik untukku. Kau boleh menggunakanya kapan saja,” ucapnya sambil mengulurkan sebuah buku bersampul coklat tanpa judul di depanya. Gadis itu pun menerimanya dengan kedua tangan . Perlahan-lahan orang itu mulai berdiri dan berpaling untuk pergi. Namun sang gadis menyadarinya dan menarik mantel yang di kenakan orang itu dari belakang. Meski hanya baru beberapa menit, ia merasakan bahwa ia akan di tinggalkan sendirian lagi.

Pria itu hanya tersenyum, menepuk pelan kepala gadis kecil itu. Dia pun mengerti dan segera melepaskan tarikanya dari mantel orang tersebut. Gadis itu hanya berdiri di pinggir jalan, melihat dari belakang selepas orang itu pergi menghilang di balik bangunan-bangunan. Tetes hujan turun satu-persatu, seorang perawat dari dalam rumah tersebut melihat gadis itu dan pergi keluar menjemputnya.

“Hai, gadis kecil. Apa yang sedang kau lakukan disini? Apa kau kehilangan orang tua mu?” Perawat itu bertanya-tanya tentang keberadaanya. Tanpa sepatah kata-pun keluar dari mulut gadis kecil itu, sang perawat pun mengerti dengan situasinya. Ia mengajak gadis itu masuk ke dalam rumah untuk bergabung bersama anak-anak yang bernasib sama dengan dirinya.

“Ngomong-ngomong,  siapa namamu gadis kecil?” Tanya perawat.

Gadis kecil itu perlahan-lahan  berjalan mengikuti langkah sang perawat secara berdampingan. Sedikit demi sedikit,  ia mulai memperoleh kepercayaan kepada sang perawat. Ia pun bersiap untuk menjawab pertanyaan yang tadi di tanyakan oleh perawat dengan pelan.

“Lumi…, Lumi Lionarde.”


****


5 Tahun kemudian

Lumi telah tumbuh besar di lingkungan yang ceria. Ia bertemu dengan banyak anak yang seusia denganya, namun Lumi tidak dapat berteman dengan satupun dari mereka. Kepribadianya yang pendiam membuatnya susah untuk bermain dengan anak-anak yang lain. Satu-satunya hal yang selalu ia lakukan adalah membaca buku. Buku-buku itu berasal dari sumbangan orang-orang di sekitar yang sudah tidak terpakai oleh mereka. Namun bagi Lumi, buku-buku itu adalah barang yang sangat berharga untuknya. Ia selalu membaca buku-buku baru yang datang di atas tempat tidurnya di ujung ruangan. Ruang tidur mereka menjadi satu dengan ruang tengah tempat anak-anak lain bermain, tetapi Lumi tetap bisa membaca buku dengan senang tanpa terganggu oleh siapapun. Saat malam tiba, ia menyalakan lampu di samping  tempat tidurnya dan mulai membaca buku lagi secara diam-diam setelah anak-anak yang lain dan perawat telah tidur.

Tidak lupa dengan buku favoritnya yang selalu ia bawa kemanapun dia pergi, yaitu buku bersampul coklat yang tidak memiliki judul di depanya. Buku itu adalah pemberian dari seseorang yang membawanya kemari 5 tahun yang lalu, ia tidak akan pernah melupakan pertemuan itu. Apa kalian penasaran dengan isi buku itu? Itu bukan hal yang spesial, melainkan hanya halaman kosong dari awal hingga akhir. Lumi berpikir untuk segera mengisinya dengan sesuatu, namun ia pikir ini belum saatnya untuk melakukan hal itu. Ia akan menunggu sampai waktunya tiba.


***


9 tahun telah berlalu

Seorang gadis berambut coklat terang sebahu memakai kacamata berjalan di tengah keramaian kota. Pertemuan dengan seseorang  15 tahun yang lalu telah mengubah hidupnya. Ia telah tumbuh menjadi gadis dewasa sekarang. Kini umurnya sudah beranjak 17 tahun. 

Hari ini dia akan membawa beberapa buku baru ke rumah panti, tempat itu sudah seperti rumah baginya. Dengan senang ia berjalan melewati berbagai macam orang yang juga sedang melakukan aktivitas mereka masing-masing. Gadis seusia-nya umumnya pergi berjalan-jalan keliling kota bersama teman-teman mereka. Sedangkan ia hanya pergi ke toko barang bekas setiap minggu untuk mencari buku-buku baru untuk di baca, dialah Lumi.

“Terimakasih sudah mampir, datang lagi ya!” sahut penjaga toko.

Sesampainya di rumah, ia tidak sabar untuk membaca buku-buku itu di kamarnya. Saat mereka sudah tumbuh besar, mereka akan diberi kamar terpisah dari anak-anak yang masih kecil. Beberapa dari mereka juga ada yang memutuskan pergi keluar untuk mulai membangun hidup mereka masing-masing. Satu kamar biasanya diisi oleh 4 orang. Saat membuka pintu, ia bertemu dengan tiga orang teman sekamarnya yang sedang bersantai di dalam.

“Hai Lumi, selamat datang kembali. Membawa buku-buku baru lagi ya?” Teman-teman sekamarnya menyambutnya kembali.

“Ya…”

“Waah, kamu memang sangat senang sekali membaca ya. Berbeda denganku, aku selalu tertidur saat kelas diadakan oleh perawat kita waktu kecil.” Mereka bertiga tertawa oleh guyonan salah satu temanya.

Lumi tidak terlalu memperdulikan hal itu dan segera naik ketempat tidurnya. Baginya membaca bukanlah sekedar aktivitas biasa, melainkan sebuah proses menganalisa suatu informasi yang terdapat pada buku dan memahaminya untuk di wujudkan secara nyata di kehidupan nyata. Lumi selalu membaca dengan konsentrasi tinggi tanpa terganggu dengan hal-hal yang terjadi di sekitar. Dengan itu, ia dapat memahami dan mengingat 90% dari setiap isi buku yang ia baca. Lumi mulai membuka halaman bukunya dan mulai membaca tanpa menghiraukan teman sekamarnya.

“Hey, apa kalian sudah dengar? Salah satu gadis disini berhasil mendaftar di pasukan militer loh.”

“Oh, maksudmu si gadis tinggi cantik dengan rambut yang diikat poni itu? Aku tidak menyangka ia akan mendaftar sebagai satuan militer.”

“Aku juga dengar dia bergabung kedalam satuan khusus di dalam sana. Emm…, kalau tidak salah mereka menyebutnya pasukan pengintai.”

“Ah! Itu orang-orang yang di tugaskan untuk menjelajah di luar wilayah dinding yang berbahaya bukan? Mereka berkelana di luar sana untuk mengumpulkan segala informasi yang mereka dapatkan. Aku jadi penasaran ada apa di luar sana.”

“Menurutku aku sudah puas bisa hidup di tempat aman seperti ini. Aku hanya ingin tahu kira-kira di dalam sana banyak lelaki tampan gak ya….”

Mereka bertiga pun tertawa lagi. Lumi berpikir sejenak setelah mendengar pembicaraan teman sekamarnya. Ia terpikir oleh kejadian 15 tahun yang lalu saat seseorang menemuinya, orang itu terlihat seperti memakai pakaian militer. Karena Lumi selalu berada di dalam rumah, ia tidak terlalu tahu tentang dunia di luar sana. Rasa penasaranya pun mulai timbul di dalam dirinya. Ia telah membulatkan tekad untuk mencari tahu tentang informasi mengenai pasukan tersebut. 

Keesokan harinya, Lumi pergi ke alun-alun kota untuk mencari informasi. Ia menemukan sebuah lembaran kertas yang merupakan surat pendaftaran keanggotaan militer. Namun sayangnya pendaftaran tersebut sudah di tutup, dan akan di buka lagi tahun depan. Di lembaran tersebut tertulis beberapa persyaratan untuk masuk bergabung ke dalam divisi militer. Lumi berpikir sejenak setelah melihat kertas itu, apa dengan bergabung dengan divisi itu bisa membuatnya bertemu dengan orang yang selama ini dia cari? Setelah memikirkanya, Lumi menyimpan kertas tersebut. Mulai dari hari itu, dia bertekad akan mencari dan mempelajari semua informasi yang di perlukan untuk mendaftar di tahun depan. Untuk bertemu dengan seseorang yang tidak pernah ia lihat lagi selama 15 tahun ini.

****


1 tahun kemudian.

Pendaftaran kembali dibuka. Lumi segera pergi mendaftar dengan penuh kesiapan. 3 hari kemudian ia menunggu untuk surat keterangan yang akan menentukan dirinya akan lolos atau tidak. Lumi selalu berharap setiap malam akan bisa bertemu dengan orang yang ia cari selama ini. Sambil melihat bintang-bintang di langit yang cerah dari teras rumahnya.

Keesokan paginya, selembar surat bersampul coklat bertuliskan nama Lumi di letakkan di depan pintu. Sang perawat segera mengambilnya dan mengetuk-ketuk pintu kamar Lumi. Lumi pun bangun dan segera menerima surat itu. Setelah melihat isinya, ia tidak bisa megucapkan satu perkataan pun. Surat itu tertulis :

“Maaf, kriteria anda belum memenuhi beberapa persetujuan kami. Mohon mencobalah mendaftar lagi pada kesempatan selanjutnya.”

Lumi memasukan surat itu lagi ke dalam amplop lalu menguap dan kembail ke atas tempat tidurnya. Pada hari itu ia hanya menghabiskan waktunya di atas tempat tidur seharian, tanpa satu lembar pun halaman buku.

Keesokan paginya, ia pergi melakukan aktivitas seperti biasa. Gosok gigi, mandi, membersihkan kamar, mengerjakan jadwal pekerjaan rumah, dan kembali membaca buku seperti biasanya. Seolah-olah tidak ada yang terjadi kemarin. Baginya surat itu bukanlah hal yang spesial, ia juga sudah menebak tidak mungkin dapat lolos hanya berbekal informasi yang ia dapatkan selama 1 tahun terakhir. Pasti membutuhkan waktu yang lebih lama dari itu. Lagipula, ia juga berpikir bahwa seseorang yang ingin dia temui 16 tahun yang lalu belum tentu mengingatnya. Ia sudah menduga semua hal itu akan terjadi, dan memutuskan untuk mulai mengurungkan harapanya selama ini. Mungkin bekerja menjadi perawat disini juga tidak terlalu buruk pikirnya.

Keesokan harinya juga berjalan seperti hari kemarin. Tidak ada yang spesial, hanya mengulangi siklus yang sama setiap hari. Satu, dua hari pun telah berlalu. Hari ini adalah ulang tahunya yang ke-18. Ia sudah melupakan semua hal itu dan menyelesaikan semua buku yang ia bawa minggu ini. Ia berencana akan pergi ke toko barang bekas lagi untuk mencari buku yang baru. Ia menutup buku yang ada di tanganya dan pergi keluar kamar untuk bergantian mengerjakan tugas rumah.

Setelah beberapa menit, satu perawat datang menghampiri. Memberitahu bahwa ada seseorang yang datang mencarinya. Ia pun meletakkan sapu yang ia pegang dan  segera pergi ke depan pintu.

“Apa kau Lumi Lionarde?” Tanya pria sopan yang sedikit lebih tinggi darinya.

Lumi tidak mengenalnya sama sekali. Ia bahkan tidak pernah berinteraksi dengan satu orang pun di luar rumah selain penjaga toko barang bekas itu. Lumi menganggukan kepalanya.

Pria itu mengeluarkan sampul coklat yang sama seperti surat sebelumnya yang ia dapatkan kemudian diserahkan kehadapan Lumi. “Nama saya Rudolf, saya datang dari Divisi Militer. Tampaknya terjadi kesalahan saat pemilihan peserta seleksi pendaftaran yang lalu. Dengan ini, kau menjadi salah satu peserta yang lolos dalam daftar seleksi dan dapat segera pindah kesana. Selamat ya.”

Lumi terdiam sejenak mendengar perkataan orang itu. Pikiranya terasa seperti melambat beberapa detik untuk mencerna perkataan dari orang itu. Ia bahkan sempat mengira bahwa orang itu hanya orang jahat yang iseng kepadanya. Lumi terlihat seperti orang yang kebingungan di depan orang itu.“E-Eh?”

“Aku bisa membantu mengangkut barang-barang bawaan jika kau ingin pindah sekarang.” Tanya nya dengan sopan.

“WAAAH! Selamat ya Lumi!”

Teman-teman dan semua orang yang ada di dalam sedari tadi menguping kini menjadi meriah memberi selamat kepada Lumi. Lumi sama sekali tidak bisa bergerak dan berkata apa-apa, ia hanya berdiri di tempat seperti patung tak bernyawa. Sedangkan semua orang yang ada di belakangnya bersiap-siap untuk merayakanya. Lumi tidak pernah menyangka sebelumnya hal ini akan terjadi. Lumi sama sekali tidak bisa bergerak dan berkata apa-apa, ia hanya berdiri di tempat seperti patung tak bernyawa. Sedangkan semua orang yang ada di belakangnya bersiap-siap untuk merayakanya. Dari semua kemungkinan yang telah ia pikir, Lumi tidak pernah menyangka kalau hal ini akan terjadi.

Malam telah tiba, mereka semua merayakan kelolosan Lumi dalam seleksi pendaftaran militer. Ini pertama kalinya Lumi merasakan sensasi sebahagia ini. Sebenarnya semua orang tahu bahwa ia adalah anak yang pendiam sejak kecil, dan semua orang juga susah berkomunikasi denganya. Mereka pikir ia sangat kesepian, di tambah setelah menerima surat yang sebelumnya. Mereka belum pernah melihat Lumi menghabiskan waktu di atas tempat tidur seharian tanpa membuka satupun buku. Ini lah saat yang tepat untuk merubah segalanya. Di malam itu, lumi tertawa bahagia bersama teman-temanya. Mereka tertawa, bernyanyi, bermain bersama. Lampu di matikan, ini saatnya acara penutupan terakhir mereka. Sebuah kue ulang tahun di bawakan dari dapur oleh sang perawat. Ini bukanlah pesta perayaan kelolosan Lumi semata, namun perayaan ulang tahunya yang ke-18. Tidak satupun hal terduga oleh Lumi hari ini. Ia hanya dapat menahan keharuanya dan meniup lilin-lilin di atas kue dengan penuh harapan. Ia berharap bisa tinggal lebih lama lagi dengan mereka. Pemotongan kue pun di lakukan oleh Lumi. Mereka  makan bersama-bersama dengan bahagia, di tempat mereka di besarkan, bersama orang-orang yang telah membesarkan mereka. Ini adalah hari terbaik yang tidak akan pernah dia lupakan. Pada akhirnya mereka semua tertidur pulas di ruang tengah bersama anak-anak dan perawat lain yang selalu menjaga mereka selama ini.

.

.

Matahari telah kembali bersinar. Lumi merapikan tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah barunya. Tumpukan-tumpukan buku miliknya yang ia kumpulkan selama ini di serahkan kepada panti asuhan. Pria yang bernama Rudolf itu kembali datang untuk mengantarnya. Lumi berpamitan dengan semua orang yang ada di dalam panti asuhan untuk terakhir kalinya. Lumi sudah mengatakan sebenarnya ia sudah tidak menginginkan lagi bergabung dengan divisi itu, namun semua orang terus menyemangatinya untuk menerimanya. Pada akhirnya Lumi tidak punya pilihan lain selain melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumah. Di atas kereta kuda, ia melambaikan tanganya kepada para perawat, anak-anak dan teman-temanya.

Beberapa dari mereka bahkan ada yang mengejarnya kepinggir jalan dan berteriak.

“Jangan lupa kirim surat ya!!”.

“Kapan-kapan mampir lagi kesini!”.

“Beritahu aku jika ada banyak pria tampan di sana!”.

Semua orang melambaikan tangan kepadanya. Perlahan-lahan rumah kayu tua tempat ia di besarkan menghilang di balik bangunan di pinggir jalan. Seketika Lumi kembali merasa kesepian. Ia tidak tahu apa bisa bertemu dengan mereka lagi suatu hari nanti. Satu-satunya yang selalu ia bawa adalah buku pemberianya waktu kecil dari seseorang. Ia akan menetapi janjinya untuk selalu menjaga buku itu sampai ia bertemu lagi denganya.

Lumi sampai ke pangkalan militer saat malam telah tiba. Memang membutuhkan waktu yang lama untuk pergi dari satu wilayah ke wilayah lain. Tempat ini adalah pemandangan baru untuk Lumi. Hanya terdapat beberapa bangunan besar yang ada disini, sedangkan sisanya seperti lapangan yang luas. Rudolf menghentikan kereta kudanya di depan bangunan yang terlihat seperti Asrama, Lumi pun segera turun. Rudolf menanyakan apa dia butuh bantuan untuk membantu membawakan kopernya, Lumi memberitahunya ia bisa membawanya sendiri. Sebelum berpisah, Lumi menanyakan kepada Rudolf tentang ciri-ciri seseorang yang dia lihat 16 tahun yang lalu, Rudolf memberitahunya bahwa ia tidak punya petunjuk sama sekali mengenai hal itu. Mereka pun berpisah dan Lumi memasuki pintu depan Asrama tersebut.

Kamarnya terletak di lantai 3 nomor 304. Ia teringat akan sambutan teman-temanya di panti asuhan saat membuka pintu, namun saat melihat kedalam hanya terdapat ruang gelap yang sunyi. Kamar ini lebih luas dari kamarnya yang sebelumnya. Ia merebahkan badanya di atas kasur yang empuk. Ia masih mengingat kebahagianya bersama orang-orang di panti asuhan kemarin. Setelah berpikir sejenak, ia mengambil buku tanpa judul itu dan mengeluarkan sebuah pena. Ia mulai menulis dari bagian terdepan untuk memberinya judul. Mulai sekarang, ia akan menulis semua kebahagiaanya selama ia hidup di dalam buku itu

.

.

“An Happines Without a Smile”

.

.

End.

PROJECT WARFARE - LUMI LIONARDE . AN HAPPINES WITHOUT A SMILE - COMPLETE

Project By : Arez   <Berserker>

Written By : Vink  <LVL>

Art By : Dawnzz

Character Design : Arez <Berserker>

Published : 2 August 2021


Vinko
Add Comment
belajar menulis, Original character, project warfare
Saturday, August 7, 2021
  • Tweet
  • Share
  • Share
  • Share

Related Posts

Comments


EmoticonEmoticon

Labels

Powered by Blogger.

About

Copyright © 2019 Warehouse All Right Reserved
Created by Arlina Design