• Close Menu
  • Home
  • Category
    • Building
    • Cinematic
    • Creative
    • Landscape
    • Nature
    • Technology
    • Vintage
  • Codes
    • CSS
    • ColdFusion
    • Fireworks
    • JavaScript
    • Lasso
    • PHP
    • SQL
    • VBScript
  • Other
    • Sub 1
    • Sub 2
    • Sub 3
    • Sub 4
    • Sub 5
  • Donasi
    • Donasi

Warehouse

Menu
  • Home
  • Static Page
  • Dropmenu
    • Dropmenu 1
    • Dropmenu 2
    • Dropmenu 3
    • Dropmenu 4
    • Dropmenu 5
  • Dropmenu
    • Dropmenu 1
    • Dropmenu 2
    • Dropmenu 3
    • Dropmenu 4
    • Dropmenu 5
  • Dropmenu
    • Dropmenu 1
    • Dropmenu 2
    • Dropmenu 3
    • Dropmenu 4
    • Dropmenu 5
  • Button
  • Error
  • Surprise Me
Home belajar menulis Original character project warfare ALISA FERMILA - NEW LIFE

ALISA FERMILA - NEW LIFE


 

Kicauan burung terdengar dari luar teras rumah yang di kelilingi oleh tumbuhan hijau. Seorang gadis cantik menghabiskan waktu makan siangnya bersama kedua orang tua yang ia cintai.

“Alisa, apa yang kau inginkan untuk hadiah ulang tahun mu besok?” Ibunya bertanya.

“Kue!” Anaknya yang baru berusia 7 tahun menjawab dengan antusias.

Ibu dan Ayahnya tertawa melihat kelakuan Alisa yang sangat polos sekali di hadapan mereka. “Hanya itu?”.

“Iyap! Mama tau kan, saat Alisa ingin memakan kue manis Ibu selalu melarangku agar tidak memakanya terlalu banyak. Kali ini aku ingin makan kue manis sebanyak yang Alisa mau!”.

“Apa kamu tidak khawatir nanti gigimu bolong?” Ayahnya yang sedang membaca koran kini ikut menggoda Alisa.

“Tentu saja tidak papa, aku kan selalu merawat gigi ku setiap malam. Lihat, Aaaaaa” Alisa menunjukan gigi-gigi kecilnya kepada mereka berdua. Kedua orangtuanya pun kembali tertawa melihat kelakuan anak perempuanya yang menggemaskan.

Keesokan harinya mereka bertiga pergi ke sebuah kafe yang berada di tengah kota.

“Kring!” Bunyi bel pintu yang selalu berbunyi saat seseorang masuk kedalam. Sang manager kafe pun menyambut mereka dengan hangat.

“Selamat datang, apa yang bisa saya ambilkan untuk anda?”

“Kue manis!” Teriak Alisa.

Suasana kafe yang sangat tenang, diringi putaran rekaman jazz yang membuat semuanya terasa sempurna. Mereka bertiga duduk di meja belakang bersampingan dengan kaca yang menghadap ke pinggir jalan, Alisa bisa melihat banyak sekali orang-orang berlalu lalang dari dalam ruangan.

Selagi menunggu pesanan mereka datang, Alisa saling bertukar cerita dengan kedua orang tuanya. Orang tuanya adalah seorang pengusaha baju yang memiliki pabrik sendiri di Distrik Industri. Perusahaanya sangat terkenal karena desain yang mereka buat selalu memuaskan para pelanggan. Tak lepas dari Alisa yang juga gemar mengumpulkan baju baru yang diberikan oleh kedua orang tuanya, ia sangat senang sekali saat melihat sesuatu yang cantik. Bahkan ia pernah terpikir ingin menjadi seorang model saat besar nanti, setiap hari ia berlagak seperti seorang aktris di depan cermin lemarinya sendiri di kamar.

“Ini dia pesanan Tuan dan Nyonya,” staff pelayan datang bersama beberapa hidangan yang sudah di pesan. Sepotong kue Black Forest dengan tambahan coklat tabur, 2 potong Cream Puff yang sangat lembut dan 3 buah pudding jeruk dingin yang manis. Alisa melihat semua hidangan itu dengan mata berbinar-binar.

Ibunya yang duduk didepan tersenyum melihat Alisa yang termangap di depan meja.,“Hm? Apa Ibu salah pesan?”.

“Apa aku benar-benar boleh memakan semua ini?” Tanya Alisa dengan ragu-ragu.

“Tentu saja, bukanya kau sendiri yang bilang kemarin?”, sahut Ibunya kembali.

Alisa terlihat senang mendengarnya, ia turun dari kursi dan pergi untuk memeluk Ibu yang ada di depanya. Dilanjutkan dengan memeluk Ayahnya juga yang berada di samping.

“Terimakasih Mama, Papa!”

Setelah kembali ketempat duduknya, ia mulai mengambil sesendok garpu dan mulai mengambil potongan kecil dari kue coklat yang ada di atas meja. Dari ekpresinya, setelah mengambil satu gigitan kecil saja dia sudah merasa seperti berada di dunia lain.

“Manisnyaa~”

Setelah selesai menghabiskan semua hidangan, mereka kembali berkeliling kota seharian untuk menghabiskan waktu bersama.

Alisa merasa sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya, karena hal tersebut tidak terjadi setiap hari. Alisa hanya dapat menghabiskan waktu bersama mereka di hari ulang tahunya saja. Dikarenakan pekerjaan kedua orang tuanya yang selalu sibuk, ia tinggal bersama seorang pelayan di rumah. Karena itu ia menghabiskan waktu setiap detiknya bersama mereka dengan gembira.

Mereka berbelanja bersama, bermain bersama, dan berjalan di taman bersama. Meski hanya satu hari saja, Alisa merasa sangat senang sekali bisa menghabiskan waktu dengan mereka sampai matahari terbenam.

Setelah malam tiba, Alisa berpamitan kembali dengan kedua orang tuanya di depan rumah. Ia tidak akan bertemu lagi dengan mereka sampai tahun depan, namun hal itu tidak membuatnya sedih. Karena dia yakin akan bertemu dengan mereka lagi suatu hari nanti.

Alisa kembali masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarnya di temani oleh seorang pelayan. Ia  mandi, gosok, gigi, lalu memakai baju piyama kesukaanya. Setelah meminum segelas susu rutin yang di bawakan oleh salah satu pelayan setiap hari, ia merebahkan badanya langsung ke tempat tidur. Meskipun ia merasa sedikit kesepian bahwa ia harus menunggu lama lagi untuk bertemu dengan kedua orang tuanya kembali, ia sudah sangat beryukur bisa menghabiskan waktu bersama mereka walau hanya sebentar saja.

Sesaat kemudian Alisa pun tertidur, dengan senyuman kecil terlukis di wajahnya. Ia akan selalu mengingat momen bahagia bersama kedua orangtuanya setiap tahun.

 

***

 

Matahari kembali bersinar terang di keesokan hari. Seorang pelayan masuk ke kamar membangunkan Alisa dari tempat tidur. Sebagai seorang wanita, ia memiliki jadwal yang sibuk untuk dilakukan setiap hari.

Srek! Sang pelayan membuka lebar-lebar tirai jendela yang ada di dalam kamar. Cahaya sinar mentari pagi langsung menerangi seisi ruangan.

Alisa yang masih tertidur kini terganggu oleh terangnya sinar mentari yang mengenai wajahnya, “Uggh…”.

“Nona Alisa, kau harus bangun sekarang. Banyak hal yang harus kita lakukan hari ini”. Sang pelayan menghampiri Alisa  yang masih terbaring di atas tempat tidur.

“Eghh…, biarkan aku tidur sebentar lagi…,” Alisa menggulung dirinya sendiri dengan selimut seperti kue bolu.

“Tidak bisa, pelajaran pertama kita akan dimulai 5 menit lagi. Jadi kau harus bersiap-siap sekarang” Sang pelayan langsung mengangkut Alisa yang masih tergulung di dalam selimut. Pelayan yang menjadi pengasuh sekaligus gurunya itu bernama Miss Vita.

Terdapat 5 pelayan yang bekerja di rumah Alisa. Miss Vita bertugas sebagai kepala pelayan sekaligus bertanggung jawab untuk membimbing Alisa agar tumbuh besar  dengan baik.

Dimulai dari bagaimana caranya berjalan, duduk, makan, minum, merawat kulit & rambut, serta cara berpakaian layaknya seorang wanita. Setiap hari mereka juga mengadakan kelas khusus  yang di tunjukan untuk Alisa.

Senin, Pelajaran Bahasa; Selasa, Ilmu Pengetahuan alam; Rabu, Matematika; Kamis, Berkebun; Jum’at dan sabtu, Tata Krama. Jadwal yang terus terulang di setiap minggu.

Hari Senin Alisa akan belajar bagaimana berbicara dengan tata bahasa yang benar. Selasa ia akan belajar mengenai struktur bagian tubuh pada manusia dan hewan. Rabu adalah hari yang paling berat untuknya, yaitu Matematika. Pada hari Kamis, ia akan pergi ke kebun bersama Miss Vita yang berada di samping rumahnya untuk belajar banyak hal mengenai tumbuhan. Sedangkan hari Jum’at dan Sabtu ia mempelajari berbagai tata kerama sehari-hari. Semuanya di lakukan dalam bimbingan Miss Vita.

Alisa hanya dapat bersantai dengan bebas pada hari Minggu. Biasanya ia hanya menghabiskan waktu seharian itu di kamarnya, bermain bersama kumpulan boneka yang ia punya.

Waktunya terus berjalan bersama Miss Vita. Alisa terus mempelajari hal-hal yang baru setiap hari bersamanya. Di umurnya yang baru 8 tahun, ia sudah mengerti tentang kewajiban seorang wanita. Seperti pandai menjahit dan memasak, namun sekali lagi ia tetaplah seorang gadis kecil. Terkadang ia tertangkap basah oleh Miss Vita karena mencuri cemilan tanpa izin tanpa sepengetahuannya pada malam hari. Ia sangat senang memakan cemilan disaat dia bosan, terutama kue krim yang manis.

Setelah beberapa bulan dilewati, ia semakin tumbuh besar. 2 hari lagi adalah hari ulang tahunya yang ke-9. Ia akan kembali bertemu dengan ayah dan ibunya sebentar lagi. Hari ini dia bersiap-siap untuk menunggu kepulangan mereka  berdua nanti malam. Dengan pakaian yang rapi dan cantik, ia berdiri di depan pintu bersama Miss Vita.

Tidak lama kemudian, sebuah kereta kuda terlihat memasuki halaman rumah. Alisa sangat senang sekali melihatnya sambil melambaikan tanganya. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan kedua orang tuanya lagi.

Saat kereta kuda itu sudah berhenti di depan rumah, Ayah dan Ibunya turun dari kereta yang sama. Para pelayan pun pergi untuk membawa barang-barang bawaan mereka.

“Selamat pulang kembali Papa, Mama,” Sambut Alisa.

Ayahnya yang turun duluan menghampiri Alisa, menepuk kepalanya lalu langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Alisa bingung apa yang sudah terjadi kepada Ayahnya, kemudian ia bertemu dengan ibunya.

“Papa kenapa Ma?” tanya Alisa bingung.

“Papa lagi pusing, mari kita biarkan dia beristirahat dulu malam ini ok?”.

Alisa mengerti dan langsung memeluk Ibunya setelah sekian lama.

“Selamat pulang, Mama!”

 

***

Pagi telah datang. Setelah menghabiskan waktu semalaman bersama Ibunya, Alisa kembali bercerita tentang hari-harinya lagi bersama Miss Vita kepada Ibunya di ruang tengah.

“Lalu, saat Bibi Vita melihatku di dapur. Aku langsung lari selagi mencoba untuk menghabiskan sisa kue manis yang masih ada di tanganku!”.

Ibunya tertawa geli mendengar cerita Alisa. Miss Vita hanya mengiyakan hal itu sambil tersemyum tipis.  Alisa juga ikut tersenyum melihat Ibunya yang tertawa. Dibalik itu, Alisa masih mengkhawatirkan Ayahnya yang belum keluar dari kamar sejak tadi malam.

Sesaat kemudian, Alisa melihat Ayahnya turun dari tangga ruang tengah. Ia langsung menghampiri Ayahnya dan memasang ekpresi kesal sambil mengembungkan pipinya, membuat langkah ayahnya terhenti sesaat “Eh? Ada apa Alisa?”.

“Papa mengabaikanku semalam, Papa membuat Alisa khawatir tau”.

“Oh itu… Hahaha… Semalam Papa kepikiran sesuatu jadi kepala Papa pusing. Maafkan papa ya?” Ayahnya mengusap-usap kepala Alisa yang sedang kesal.

Wajah cemberut Alisa seketika tersenyum manis kembali.

“Kalau begitu sekarang kita bisa main bersama lagi kan?” Alisa mengajak Ayahnya dengan semangat.

“Iya, iya. Kita akan akan bermain sampai tidak bisa bergerak lagi!”

Alisa memasang ekpresi takut seketika.

“E-eh? Papa cuma bercanda kok!”. Mereka semua pun tertawa.

Keesokan harinya mereka merayakan ulang tahun Alisa yang ke-9 di rumah.

“Selamat ulang tahun!” Para pelayan menembakan sebuah pernak-pernik secara bersamaan. Alisa yang baru memasuki ruang tengah bersama Miss Vita tersenyum bahagia melihatnya. Kedua orang tuanya juga sudah menunggu nya di samping kue ulang tahun dengan lilin yang siap di tiup.

“Selamat ulang tahun!” ucap Ibunya. Ayahnya yang berdiri disebelah mengeluarkan sebuah kado kotak berwarna putih, itu adalah baju baru yang Alisa inginkan saat mereka berbelanja tahun lalu. Alisa langsung menuju ruang ganti memakai pakaian barunya lalu kembali ke ruang tengah.

Alisa terlihat ragu-ragu saat menunjukan penampilanya. Itu adalah Dress lengan panjang setengah kaki berwarna putih. Alisa meminta pendapat tentang penampilanya di depan semua orang, “Bagaimana?...”.

“Kau terlihat cantik, Alisa” Ibunya menjawab bersama pelayan lainya yang menepuk tangan dari belakang. Wajah Alisa memerah seketika, selanjutnya adalah waktu peniupan lilin kue.

“Apa harapanmu untuk tahun ini, Alisa?” Tanya sang Ibu selagi menyamakan tingginya dengan Alisa sambil memegang kue ulang tahun di kedua tangan.

“Semoga Alisa bisa tinggal bersama Mama dan Papa lebih lama lagi,” Alisa meniup lilin kecil berwarna merah di atas kue setelah mengucapkan harapanya. Ibu dan Ayahnya tersenyum kecil mendengar ucapan Alisa. Kemudian mereka berkumpul dan bermain bersama lagi setelah pemotongan kue di lakukan.

Berbagai macam permainan mereka mainkan di siang itu, salah satunya adalah memukul piñata dengan tongkat plastik kecil. Para pelayan dan Miss Vita juga ikut bergabung dalam permainan mereka seperti membuat berbagai bentuk dengan kertas lipat, meniup balon dan bahkan fashion model. Mereka semua bersenang-senang bersama di ruang tengah rumah yang besar.

Beberapa jam kemudian, seorang pelayan pria yang merupakan supir kereta kuda semalam datang berbisik kepada Ayahnya. Alisa terlihat bingung sejenak dengan apa yang mereka bicarakan. Setelah itu, Ayahnya menghampiri dirinya yang di tengah saat sedang bermain.

“Maaf ya Alisa, Papa harus pergi sekarang. Ada pekerjaan yang harus Papa selesaikan,” ucap Ayahnya dengan nada sedikit menyesal kepada Alisa.

“Eeeeh? Tapi ini belum malam Pah, apa Papa benar-benar mau pergi sekarang?” Tanya Alisa sekali lagi untuk meyakinkan Ayahnya.

“Papa sebenarnya juga tidak mau, tapi Papa baru saja mendapat panggilan untuk segera kembali kesana. Papa janji, kita akan bertemu lagi nanti secepatnya, ok?” Ayahnya tersenyum lemah di depan Alisa.

Alisa tahu bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu bahwa Ayahnya adalah seorang pekerja keras yang penuh dengan tanggung jawab. Jika dia tidak membiarkanya pergi, itu hanya akan menambah beban Ayahnya. Pada akhirnya Alisa hanya bisa mengangguk kepada ayahnya dengan cemberut, “Mhm…”.

Ayahnya kembali beranjak berdiri bersiap untuk pergi. “Tenang, kali ini hanya Ayah yang akan pergi. Mama akan tinggal disini sekarang bersamamu”.

Alisa terkejut mendengarnya, “Eh? Benarkah?!”, ia langsung menoleh ke arah Ibunya yang tersenyum lembut ke arahnya. Mata Alisa terlihat terbinar-binar seakan-akan tidak mempercayai apa yang baru saja terjadi. Ia kembali melihat Ayahnya lagi dan di balas oleh senyuman lainya. Ia berlari dan memeluk Ayahnya dengan erat, “Janji ya?”.

“Iya, Papa akan mengusahakanya kok”.

Alisa kemudian melepaskan ikatan rambutnya dan memberikanya kepada sang Ayah, “Ini sebagai tanda janji Papa, Papa harus mengembalikanya lagi nanti ok?”, Alisa  lalu kembali berlari menuju pelukan Ibunya. Ikat rambut itu adalah hadiah ulang tahun pertamanya saat berumur 3 tahun.

Setelah itu Ibunya mengucapkan salam terakhir kepada Ayahnya dengan ciuman di pipi dibalas dengan ciuman di kening. Kemudian mereka berdua mengantar Ayahnya kedepan pintu sampai pergi menghilang dari depan halaman rumah. Alisa merasa sedikit sedih karena hanya menghabiskan waktu dengan Ayahnya sebentar, namun sekarang Ibunya akan menemaninya mulai sekarang.

“Ayo kita masuk,” ajak ibunya kembali masuk kedalam rumah. Alisa langsung menghilangkan rasa sedihnya dan kembali tersenyum.

Mereka melanjutkan pesta itu sampai matahari tenggelam. Alisa sekarang sudah tidak tidur sendirian lagi, sekarang ada Ibunya yang menemani. Sebelum tidur, Ibunya menceritakan sebuah dongeng yang biasa ia ceritakan dahulu sebelum Alisa tidur.

Cerita itu tentang seorang remaja yang bercita-cita untuk mengetahui dunia luar. Akan tetapi, saat dalam perjalananya ia di halangi oleh sebuah tembok raksasa besar yang tidak ada ujungnya. Remaja itu sudah berjanji bahwa dia tidak akan menyerah, ia memutuskan untuk terus mencari jalan masuk untuk melewati dinding itu.

 

Namun setiap waktu yang dia habiskan tidak membuahkan hasil sama sekali. Saat ia sudah berada di ujung harapan, ia bertemu dengan seseorang yang juga sedang berjuang mencari jalan masuk untuk melalui tembok besar itu. Akan tetapi hasilnya tetap sama, tidak satupun dari mereka yang berhasil melewatinya. Melainkan, mereka telah menemukan sesuatu yang lebih berharga dari apa yang mereka kejar selama ini. Sesuatu yang akan selalu mereka jaga dengan sepenuh hati. Setelah beberapa lama, mereka pun tidak peduli lagi dengan apa yang ada di balik dinding itu. Pada hari itu mereka berdua berjanji, akan menjaga malaikat kecil yang sudah di karuniakan kepada mereka berdua sampai saat ini.

Saat cerita telah berakhir, Alisa selalu tertidur dengan pulas. Ibunya yang tidur di sebelahnya mengelus pelan wajah Alisa. Ia senang bisa bersama malaikat kecilnya sekali lagi setelah sekian lama.

“Maaf ya, Mama sudah meninggalkanmu selama ini. Mama berjanji, akan selalu menjagamu mulai sekarang”.

Mereka berdua pun tertidur di tengah malam yang di penuhi oleh bintang.

 

***

 

Hari lainya telah hadir di dalam sebuah keluarga yang bahagia. Miss Vita memasuki ruangan dan membuka tirai jendela selebar-lebarnya. Alisa dan Ibunya masih tertidur pulas bersama di atas tempat tidur. Miss Vita tersenyum sejenak melihat kelakuan Ibu dan Anak yang sama, ia pun segera meninggalkan ruangan agar tidak membangunkan mereka berdua. Ia merasa tidak berhak mengganggu momen di antara mereka.

Namun pada akhirnya mereka berdua masih tertidur sampai jam makan siang tiba.

“Nyonya dan Nona Alisa, Bangun!” Miss Vita menarik selimut mereka berdua dan membiarkan cahaya matahari mengenai wajah mereka.

“SILAU!”

 

 ***

 

Alisa kembali melakukan rutinitasnya setiap hari seperti biasa. Tetapi kali ini hampir semua kegiatan ia lakukan bersama Ibunya. Mulai dari mandi bersama, makan bersama, belajar bersama, bahkan mereka berdua pergi ke taman belakang untuk membolos dari jam pelajaran matematika Miss Vita.

“Kelakukan Ibu dan anak sama saja…,” Miss Vita menepuk dahinya sendiri sambil menghela napas melihat Alisa dan Ibunya sedang bermain bersama di taman.

Setiap hari Alisa menghabiskan waktu bersama Ibunya. Disaat menyangkut hal tentang pakaian, Ibunya selalu maju kedepan. Ia menyarankan Alisa berbagai macam pasang baju yang belum pernah ia pakai sebelumnya. Ibunya juga sangat pandai berkebun, Alisa selalu semangat belajar saat  berada di dekat Ibunya dan mencatat semua hal itu di buku harianya setiap hari. Sejak saat itu, Alisa tidak pernah merasa sedih lagi. Mereka terus bersenang-senang bersama selama 7 bulan terakhir.

Setidaknya itulah yang terjadi.

Keesokan paginya, seorang petugas yang berasal dari tempat Ayahnya bekerja datang kerumah. Alisa melihat Ibunnya sedang berbicara dengan orang itu dari atas tangga. Karena suatu alasan, Ibunya terlihat terkejut di tengah pembicaraanya. Setelah kembali ke atas, ia memberi tahu Alisa bahwa ia harus pergi sekarang juga.  Ia berjanji tidak akan lama dan akan pulang dengan cepat, Alisa pun menyutujuinya. Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, ibunya langsung bergegas pergi tanpa membawa apapun bersama orang yang datang kerumahnya tadi.

Saat Alisa menanyakan hal itu kepada Miss Vita, Miss Vita selalu saja menjawab, “Nyonya sedang ada urusan mendadak, dia sudah bilang akan pulang dengan secepatnya kepada bibi. Jadi mari kita tunggu saja ya”.

Setelah menunggu 4 hari kepergian Ibunya, Alisa tidak pernah melihatnya datang di pintu depan halaman. Pada siang itu Miss Vita mendapat panggilan masuk dan segera mengajak Alisa untuk pergi keluar rumah.

“Kemana kita akan pergi?” Tanya Alisa.

“Kita akan bertemu dengan Nyonya sebentar lagi, jadi jangan sedih ya?” Sahut Miss Vita sambil tersenyum. Mendengar hal itu Alisa merasa lega dan senang kembali. Walaupun dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka pergi menaiki kereta kuda pribadi yang sudah menunggu di depan.

Sesampai di sana, mereka memasuki sebuah gedung bertingkat di tengah kota yang menjadi pusat rumah sakit di Distrik Pemukiman. Ini adalah waktu pertama kalinya ia berjalan keluar rumah dengan Miss Vita.

“Dimana kita?” Tanya Alisa.

“Sebentar lagi kita sampai kok” jawab Miss Vita sambil memegangi tangan Alisa.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di lantai 3. Saat memasuki ruangan yang cukup luas, ia melihat Ibunya duduk tak berdaya di depan tirai plastik. Ibunya seketika memeluk Alisa dengan erat, sementara Alisa masih tidak tahu apa yang sedang terjadi. Alisa pun menanyakan keberadaan Ayahnya, namun Ibunya sendiri tidak menjawab. Saat Alisa diajak masuk kedalam tirai itu, Ia melihat seseorang terbaring di atas tempat tidur dengan wajah yang sudah tidak bisa dikenali lagi. Alisa langsung terdiam tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Orang itu memiliki kulit berwarma hitam rapuh dengan luka bakar serius di bagian kepalanya. Meskipun begitu, Alisa langsung mengerti. Ia sangat tidak ingin mempercayainya sedikitpun, namun ia tidak pernah melupakan seseorang yang berharga di dekatnya, ia sangat mengenali siapa sosok yang terbaring di depanya sekarang. Di tangan kiri orang itu terdapat sebuah ikat rambut yang tampak tidak asing baginya. Perlahan-lahan, orang itu menggerakan bibirnya tanpa suara. Alisa dapat melihatnya dengan jelas dan mengerti apa yang orang itu katakan,

 

“M - a – a - f”.

 

Alisa gagal menahan air matanya dan langsung menangis sambil berjalan mendekati orang itu. Ibunya yang ada di belakang langsung memeluknya dengan erat. Alisa terus meraih tanganya kedepan untuk meraih orang itu dan memanggilnya, namun semuanya sudah terlambat. Garis hijau yang kian bergerak lemah kini telah bergerak lurus mengeluarkam bunyi tak berhenti. Orang itu sudah menghembuskan napas terakhirnya. Suara tangis Alisa terdengar seisi ruangan sampai ke lorong tempat Miss Vita berdiri. Miss Vita yang bisa bisa menahan sedihnya di dalam genggaman tanganya.

 

***

 

“Kebakaran terjadi di sebuah pabrik pakaian yang terletak di Distrik Industri bagian barat. Di duga penyebab kebakaran tersebut adalah kesalahan fungsi mesin yang menyebabkan ledakan berakibat penyebaran api keseluruh ruangan. Terdapat 9 orang yang cedera, 1 orang kritis dan 1 orang telah meninggal dunia. Untuk informasi selanjutnya akan kami sajikan sesaat lagi”.

Miss Vita mematikan Tv yang menyala di ruang tamu. Setelah itu ia pergi ruang atas, membuka tirai jendela selebar-selebarnya lalu membangunkan Alisa. Langit di luar tampak mendung, angin meniup pepohonan di luar dengan kencang. Alisa bangun dari tempat tidurnya dan segera bersiap-siap untuk melakkukan aktivitas harian seperti biasa.

Setelah menghadiri pemakaman Ayahnya kemarin, Alisa tidak pernah lagi berbicara dengan Ibunya. Beliau telah mengurung dirinya seharian di kamar. Miss Vita pun tidak bisa berbuat apa-apa kepadanya. Seisi rumah terasa suram, di tambah cuaca yang tampaknya akan membawa badai besar.

Hari ini Alisa akan mempelajari tentang materi penggunaan dialog tag dan aksi. Dialog tag adalah teknik penulisan dialog yang ditulis seiringan dengan tingkah laku tokoh. Sedangkan dialog aksi adalah teknik penulisan dialog yang tidak diiringin secara langsung olen aksi. Semua berjalan seperti biasanya sampai malam tiba. Alisa kembali ketempat tidur, berharap dia bisa berbicara dengan Ibunya lagi esok hari.

Keesokan harinya

“Selamat pagi, Alisa,” sambut seorang wanita berparas cantik dengan rambutnya yang berwarna coklat gelap diikat kebelakang. Alisa terbangun dan melihat wanita itu dengan samar-samar. Setelah ia mengusap matanya perlahan-lahan, akhirnya ia bisa melihat dengan jelas.

“Mama!”

Alisa merasa senang karena Ibunya telah kembali. Mereka kembali tertawa bersama layaknya seorang Ibu dan Anak. Tidak ada yang terjadi di antara mereka berdua setelah kepergian orang yang mereka kasihi. Bukan berarti mereka sudah melupakanya, hanya saja mereka berdua pandai menyembunyikan perasaan mereka di balik tawa bersama. Saat Ibunya terlihat sedih, Alisa selalu berusaha untuk menghiburnya kembali. Apapun yang terjadi, Alisa tidak akan membiarkan Ibunya merasa sedih lagi dan akan selalu membuatnya bahagia. Karena itulah yang ia sukai, senyuman yang tidak tergantikan oleh siapapun.

5 bulan telah berlalu

Alisa dan Ibunya duduk di teras belakang rumah menyaksikan bintang-bintang di langit. Beristirahat setelah melakukan berbagai macam kegiatan seharian penuh.

“Apa yang kau inginkan untuk ulang tahunmu besok, Alisa?” Tanya pelan Ibunya.

Alisa menggelengkan kepalanya, “Bisa bersama Mama setiap hari sudah cukup buatku,” Alisa memejamkan matanya di dalam pelukan Ibunya.

“Ayolah, pasti ada yang kau inginkan”.

“Enggak kok…,”

“Alisaaa,”

“Baiklaah!” Alisa menyerah,  “Aku ingin mencicipi kue buatan Mama lagi”.

“Eh? Bukanya terakhir kali kau bilang kue buatan Mama terlalu kering?”

 “Itu kan sudah lama sekali! Alisa Cuma mau…. Mencicipinya lagi…,” Alisa menundukan pandanganya sambil memainkan jari-jari kecilnya.

Ibunya tersenyum, “Baiklah kalau itu yang kau mau, Mama akan membuatnya lagi besok pagi”.

Alisa senang mendengarnya.

Mereka pun menghabiskan sisa waktu malamnya bersama sampai Alisa tertidur pulas.

 

***

 

Satu malam telah berlalu

Alisa bangun tanpa Ibu yang berada di sampingnya. Dengan mata yang masih mengantuk, ia langsumg pergi mencarinya. Secara kebetulan, Alisa menemukan Ibunya di dapur sedang bersama Miss Vita. Setelah melihat panci-panci yang tertumpuk dimana-mana, Alisa pun mendendekati mereka berdua.

“Eh Alisa, kamu sudah bangun ya,” sapa Ibunya. Setelah menyiapkan sesuatu dari balik badanya, ia mempersembahkan sebuah kue krim putih dengan starwbery di atas kepada Alisa.

“Tada!! Vanila Cake Butter Cream Strawbery buatan spesial Mama!”.

Alisa terkejut melihat potongan rapi yang benar-benar terlihat seperti kue. Terakhir kali saat Ibunya membuat kue, bentuknya lebih mirip seperti kue kering yang cocok dimakan bersama teh. Tapi kali ini bentuknya benar-benar cantik.

“Bagaimana? Terlihat cantik bukan? Hehe, berkat bantuan dari Miss Vita, Mama mempelajari semua buku tentang cara membuat kue dengan benar semalaman. Tidak kusangka hasilnya benar-benar sangat memuaskan ya…,” ucap Ibunya dengan ekpresi puas dan mempesona. Sedangkan Miss Vita hanya berdiri tersenyum di sampingya.

Alisa mengambil sesendok garpu dan memotong bagian kecil dari kue tadi lalu mencicipinya. Ibunya terlihat tegang saat menunggu reaksi Alisa yang masih terus mengunyah kue di dalam mulut. Setelah menelanya, Alisa menaruh garpu dari tangan kananya dan bersiap untuk memberikan komentar.

“Enak!~”  Alisa memasang ekpresi puas.

Ibunya yang sedari tadi menunggu akhirnya memeluk Alisa dengan senang dan mengangkatnya ke atas, “YAY!”.

Meskipun rasanya tidak seperti yang Alisa bayangkan, ia sangat bahagia karena Ibunya sudah bersusah payah melakukan semua itu untuknya. Tidak peduli apapun yang terjadi, selama bersama Ibunya dia akan terus bahagia.

“Maaf mengganggu kesenangan kalian berdua, tapi sepertinya Nyonya lupa menaruh lilin ulang tahunya di atas kue,” Miss Vita tersenyum.

“Eh? Yang benar?!” Ibu Alisa terhenti sejenak memutar-mutar Alisa dan menyadari apa yang dikatakan Miss Vita tadi. Ia kini menyesal karena telah menghancurkan momen paling penting dalam perayaan ulang tahun Alisa. Alisa pun tertawa melihat kelakuan Ibunya sendiri, dan mengatakan bahwa hal itu sama sekali tidak penting.

“Selama ada Mama ada disini,  Alisa sudah senang kok”. Alisa tersenyum.

Ibunya pun ikut tersenyum, dan memeluk Alisa kembali dengan pelan.

“Terimakasih Alisa, Mama juga sana sangat senang bisa bersamamu selama ini,” pelukan semakin erat, “Tapi maaf ya, sepertinya Mama sudah tidak kuat lagi….”.

Alisa merasakan pelukanya perlahan melemah. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ibunya barusan.

“Eh? Apa yang Mama bicarakan?”.

Sebelum sempat menjawab pertanyaan Alisa, Ibunya sudah terjatuh lemah di depan pelukan Alisa, Miss Vita segera berlari ke arah mereka berdua dan memanggil pelayan yang lain. Alisa yang bingung hanya melihat dari kejauhan sementara Miss Vita mencoba membuat Ibunya kembali sadar. Setelah pelayan lainya datang, mereka langsung membawanya kembali ke kamar. Alisa mengikuti dari belakang mereka dan menunggu di depan pintu. Ibunya telah pingsan dan sekarang berada di atas tempat tidur tidak sadarkan diri.

 

“Psikosomatik”.

 

Itulah yang diucapkan oleh dokter setempat. Psikosomatik adalah kondisi menurunya kesehatan tubuh akibat rasa cemas dan stress yang berlebihan. Penyebabnya bisa terjadi karena trauma atau perasaan emosional yang di pendam dengan paksa. Setelah kepergian Ayah Alisa, Ibunya masih terus memikirkan hal itu tetapi ia selalu menyembunyikanya karena khawatir akan Alisa. Kini ia sudah berada di kondisi kritis dan tidak bisa menggerakan tubuhnya lagi.

Dokter menyarankan untuk selalu memberinya makan teratur dan waktu istirahat. Selain itu, dokter juga memberinya beberapa vitamin agar dapat meningkatkan nafsu makan. Alisa hanya dapat melihat ibunya dari depan pintu setiap kali Miss Vita datang.

Beberapa hari telah berlalu, Ibu Alisa tak kunjung sembuh sementara kondisi tubuhnya semakin menurun. Miss Vita selalu memeriksa keadaanya setiap jam.

Terkadang Alisa tertidur di lorong selagi menunggu kesembuhan Ibunya. Setiap hal itu terjadi, Miss Vita selalu menggendong Alisa kembali ke tempat kamar.

Suatu hari setelah Miss Vita sudah selesai memeriksa kondisi Ibunya di malam hari, Alisa memberanikan dirinya untuk masuk kedalam.

Sesampai di sana, ia memegang tangan Ibunya yang dingin dan melihatnya dengan khawatir.

“Ma...?”

Napas-nya terdengar terengap-engap. Perlahan-lahan Ibunya membuka mata melihat Alisa yang berdiri di samping tempat tidur. Ia menatapnya dengan pelan dan berusaha untuk tersenyum.

“Ada apa Alisa…?”

Alisa merasa tertekan karena melihat Ibunya yang berusaha untuk berbicara.

“Apa ada sesuatu yang bisa Alisa lakukan untuk Mama?”

.

Ibunya tersenyum, “Kau sudah tumbuh besar menjadi anak yang baik ya, Alisa. Mama sangat bangga kepadamu,” lanjutnya sambil mengelus kepala Alisa.

“Mama akan sembuh kok, jadi Alisa tidak usah khawatir ya? Mama cuma butuh istirahat sebentar…”.

Setelah itu, Alisa menggeser sebuah bangku kecil ke samping tempat tidur.  Ia meletakkan kepalanya di atas kasur sambil memegang tangan Ibunya. Alisa merasa khawatir akan terjadi sesuatu malam ini, jadi ia memutuskan untuk menemani Ibunya.

Sang Ibu tidak mengucapkan apa-apa lagi, mereka berdua hanya diam sesaat seiring sinar rembulan  masuk menerangi ruangan mereka melalui jendela.

.

“Alisa….”

 

“Ya, mama?”

 

“Kalau kamu sudah besar nanti, ingin menjadi apa…?”.

 

“Aku ingin menjadi seorang model cantik yang terkenal seperti Mama”.

 

“Hahaha… Tapi kan Mama bukan model?”.

 

“Tentu saja Mama model, karena aku penggemar nomor 1 Mama. Hehe”.

 

“Ehh?....”

 

.

 

“Alisa….”

 

“Ya, Mama?”

 

“Apa yang kamu lakukan nanti…, kalau Mama tidak ada?....”

 

“…”

 

“…”

 

.

 

“Alisa….”

 

“Ya, Mama?”

 

“Bisakah Mama meminta 1 permintaan lagi?”

 

“Boleh…”

 

“Mama ingin kamu selalu tersenyum…, dimanapun kamu berada…. Karena kamu sudah besar…. Kamu boleh memakan kue manis sepuasnya, asalkan jangan lupa gosok gigi 3 kali sehari ya?.... Mama ingin kamu tumbuh besar seperti yang kamu mau…. Jangan lupa juga selalu mengingat orang-orang yang ada di sekitarmu…, karena mereka lah yang akan menghiasi hari-harimu nanti….”.

 

“Ma…, itu lebih dari 1 permintaan”.

 

.

 

“Alisa….,”

 

“Ya, Mama?....”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Ma?...”

 

.

 

.

 

.

 

“Alisa janji akan melakukanya”.

 

.

 

“…”

 

.

 

“…..”

 

.

 

“Jangan pergi.…”.

Alisa memegang erat tangan Ibunya yang telah pucat, berusaha untuk menahan air mata yang terus mengalir di pipinya. Karena dia sudah berjanji, bahwa ia akan terus tersenyum apapun yang akan terjadi. Tetapi di malam itu, ia benar-benar tidak bisa menahanya dan mengeluarkan semua kesedihanya. Miss Vita yang mendengar langsung berlari ke lantai atas memeriksa mereka berdua, pelayan yang lain pun ikut mendatangi mereka. Alisa masih terus menangis dan memeluk Ibunya dari dekat, berharap ia akan membuka matanya kembali. Miss Vita menyuruh pelayan lain untuk segera memanggil dokter. Para penjaga pun turut datang melihat mereka berdua. Malam itu dipenuhi dengan tangisan dan air mata. Mereka semua telah berpisah dengan orang yang mereka semua cintai. Tidak ada yang bisa menghentikan tangis Alisa pada malam itu, ia terus menangis sambil terus menerus  memanggil Ayah dan Ibunya. Tetapi apa yang sudah pergi tidak dapat kembali lagi, keduanya telah pergi untuk selama-lamanya.

 

***

 

Keesokan harinya, pemakaman pun di lakukan di tempat yang sama seperti sebelumnya. Hujan deras turun di atas semua orang yang sedang berduka di depan dua makam seseorang yang sudah menjadi penyelamat mereka, kini jejak yang tersisa hanyalah Alisa seorang diri. Setelah menangis semalaman selepas kepergian orang yang sangat ia cintai, Alisa sudah bersikap tenang seperti biasa lagi. Dengan Miss Vita yang berada di sampingya, mereka semua mengucapkan salam untuk terakhir kalinya dengan seuntai bunga berwarna putih. Setelah itu mereka pulang ke tempat kediaman seperti biasanya.

“Permisi…”.

Seorang gadis kecil mengenakan jas hujan berwarna kuning berhenti di depan Alisa. Muka gadis itu tidak terlihat jelas, tetapi Alisa dapat melihat bekas luka bakar besar di wajahnya.

“Anu…, ini,” Gadis itu memberikan sebuah buku bersampul hitam kepada Alisa, “Ini adalah buku yang ku temukan di puing-puing pabrik 5 tahun yang lalu. Aku rasa ini milik Ayahmu”.

Alisa terkejut, ia ingat bahwa ada satu orang yang selamat dari kebakaran itu dengan kondisi kritis.

“Ayahmu adalah seorang penyelamat, sebelum api menyebar ke semua ruangan, ia memilih untuk menyelamatkanku terlebih dahulu bersama orang-orang lainya. Ia adalah seorang pahlawan, beliau adalah orang yang sangat baik bagi kami. Aku…,” gadis itu menggelengkan kepala dengan gemetar, “M-maafkan kami…, k-karena tidak-” sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Alisa menepuk pundaknya dan menyamakan tingginya dengan gadis itu.

“Aku tahu kok, dia juga sudah menjadi seorang pahlawan untuk-ku”.

Alisa tersenyum, gadis kecil itu mulai menangis tanpa menyelesaikan kalimatnya. Kemudian Alisa menyuruh salah satu penjaga untuk mengantarnya kembali pulang. Setelah melihat sejenak buku yang ia pegang, ia kembali berjalan bersama Miss Vita dan yang lain.

 

***

 

Malam telah tiba, Alisa masuk kembali ke dalam kamarnya. Buku bersampul hitam itu dia letakkan kedalam laci, lalu duduk di depan cermin rias. Alisa melepaskan ikatan rambut miliknya, lalu mengambil sebuah sisir untuk meluruskan tiap helai rambut sebelum ia tidur. Suasana hening memenuhi seisi ruangan, Alisa terus meluruskan rambutnya tanpa melihat kedepan cermin sedikitpun. Kerpergian 2 orang terdekatnya masih menghantui Alisa. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Satu – dua jam pun telah berlalu, Alisa masih diam di depan cermin rias hanya dengan penerangan lilin yang kecil. Setelah beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar Alisa dari luar.

“Silahkan,” sahut Alisa.

Orang itu adalah Miss Vita. Ia merasa khawatir akan Alisa dan memutuskan untuk pergi memeriksa. Setelah Alisa membiarkanya masuk, Miss Vita berdiri di belakang Alisa.

“Boleh aku membantu Nona?” pinta Miss Vita.

Alisa berhenti, kini Miss Vita yang menyisir belakang rambutnya.

Tidak ada yang mengucapkan satu kata pun, mereka hanya di naungi oleh sepinya malam hari. Hujan belum kunjung henti sejak tadi pagi, suara rintiknya terdengar menggema dari luar.

“Sebelum saya bertemu dengan Nona, saya hanyalah seorang gadis kecil yang tidak tahu harus berbuat apa,” Miss Vita memulai pembicaraan.

“Saya tinggal di sebuah panti asuhan yang terletak di tengah kota, saya bertemu dengan banyak sekali pengasuh yang baik hati disana. Mereka merawat saya bersama anak-anak lainya dengan penuh kasih sayang, meskipun mereka tidak punya hubungan darah dengan kami sama sekali. Tanpa mereka, kami tidak bisa tumbuh dengan baik seperti sekarang.

Pada saat itu saya sudah mendapatkan cita-cita pertama saya, saya ingin menjadi seperti mereka. Karena mereka telah mengajarkan sesuatu yang penting kepada kami”.

Alisa mendengarnya dengan saksama, tanpa mengkat pandanganya sedikitpun.

“Apa itu?...,” Tanya Alisa.

“Bahwa kita semua harus saling berbagi dan mengasihi dengan satu sama lain,” jawab Miss Vita. Setelah selesai menyisir, ia merangkul kedua tanganya dengan pelan di pundak Alisa dari belakang.

“Seiring waktu berjalan, saya akhirnya bertemu dengan Nyonya Lisa, Ibumu.

Ia sangat baik sekali kepada kami dan para perawat, beliau juga selalu memotivasi dan membantu kami jika ada sesuatu yang terjadi.

Suatu hari kemudian, kami mendepatkan kabar gembira bahwa beliau telah melahirkan seorang anak perempuan yang cantik. Itulah dirimu, Alisa.

Kami semua ikut senang mendengarnya. pada saat itu juga kami bertemu dengan Ayahmu .

Beliau adalah orang yang baik hati dan selalu tersenyum. Ia memberitahu kami bahwa kami semua telah di ajak untuk pindah ke rumah mereka untuk bekerja disana.

Tentu saja dengan senang kami menyetujuinya, karena kami bisa bekerja untuk orang yang telah menjadi idola kami.

Beberapa dari kami dikirim ke Distrik Perindustrian untuk bekerja bersama Ayahmu, sedangkan sebagian lainya bertugas disini untuk melayani Ibumu. Saat itu Ibumu telah memilih saya untuk menjadi kepala pelayan.

Setiap hari kami bertemu dengan beliau dan juga dengan Nona untuk pertama kalinya. Nona masih senang menggigit jari-jari kecil Nona saat itu,” Miss Vita tertawa kecil, tak lain Alisa juga ikut tersenyum.

“Waktu terus berlalu, Ibumu mulai sibuk bekerja bersama Ayahmu di Distrik Industri. Ia memberiku tanggung jawab yang besar sampai saya sendiri tidak percaya saat itu, yaitu menjaga Nona.

Saya pikir Nona akan terus menangis jika di tinggal sendirian, tetapi itu tidak pernah terjadi. Nona selalu bersikap tenang dan tersenyum kepada orang lain meskipun baru bertemu dengan mereka. Nona mengingatkan saya kepada orang-orang yang telah membesarkan saya sebelumnya.

Tetapi bukan berarti mengurus Nona hal yang mudah, terutama soal cemilan yang harus saya jaga setiap malam”.

Alisa tertawa mendengar keluhan Miss Vita.

“Sampai saat ini, saya tidak menyesali waktu yang saya habiskan bersama Nona. Semua orang disini juga merasakan hal yang sama seperti Saya. Kami bersyukur bisa bersama anda selama ini.

Karena itu, kami akan selalu bersama Nona sampai kapan pun, apa pun yang terjadi”.

Miss Vita menyampaikan semua perasaan orang yang berada disana kepada Alisa. Awan hitam yang sedari tadi menghalangi bulan di malam ini telah lewat. Rembulan kini bersinar lebih terang dari sebelumnya.

Alisa kemudian memegang tangan Miss Vita seraya berkata, “Aku juga bersyukur bisa bersama kalian selama ini…. Terimakasih”.

Keesokan paginya Alisa terbangun dari senderan Miss Vita di tempat tidur. Ini adalah pertama kalinya ia bangun lebih awal dari Miss Vita. Ia berdiri dan melihat keluar jendela yang tidak tertutup semalam. Perlahan-lahan Miss Vita pun ikut bangun.

“Bibi, kenapa semua orang berkumpul di luar?” Tanya Alisa kepada Miss Vita. Alisa langsung keluar kamar menuju barisan orang yang berada di depan pintu masuk. Miss Vita yang bingung juga mengikutinya dari belakang.

Mereka berdua berdiri di depan barisan para pelayan, penjaga, dan pekerja yang selama ini bekerja untuk keluarga Alisa. Setelah beberapa saat, seorang pelayan maju.

“Nona, kami sudah mendengar jawaban dari Nona semalam. Kami sudah memutuskan apa yang harus kami lakukan”.

Pelayan itu menunduk kebawah. Alisa yang tidak tahu apa-apa hanya berdiri kebingungan di depan mereka semua. “Eh?”

“Kami semua sudah bekerja melayani Nona selalama 10 tahun terakhir. Nona sudah menjadi seperti keluarga untuk kami, maka dari itu, izinkanlah kami untuk melayani Nona sampai suatu hari nanti Nona menyuruh kami untuk pergi,” Pelayan itu menunduk kebawah bersama dengan orang-orang lain di belakangnya. Mereka telah mengabdikan diri mereka semua kepada Alisa agar terus melayaninya dari awal sampai akhir. Alisa yang begitu bingung hanya bisa melihat semua orang menunduk di depanya. Setelah Alisa mengerti dengan apa yang terjadi, ia tersenyum tenang di wajahnya. Karena ia masih memiliki orang-orang yang peduli kepada dirinya, rasa kekosongan di dalam hatinya telah menghilang. Ia pun berdiri kembali dengan tenang, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskanya.

“Ayolah, kalian tahu aku tidak tinggal di tempat ini sendirian bukan?” Alisa Tersenyum kembali.

“Tidak perlu seformal itu, lagipula kalian sudah menjadi keluarga ku sejak lama. Tidak mungkin aku meninggalkan kalian,” Alisa menjulurkan tanganya kepada sang pelayan. Mereka semua kembali berdiri dan menyeru kepada Alisa. Salah seorang pelayan memeluknya dengan terharu. Alisa juga sama senangnya dengan mereka semua.

Memang benar, kedua orang yang dicintainya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Akan tetapi, ia masih memilik orang-orang yang selalu menjaganya. Mereka semua telah menjadi bagian dari keluarga Alisa.

“Tapi kalian tahu, aku tidak bisa melakukan ini sendiri. Apa yang bisa di lakukan gadis berusai 10 tahun untuk kalian semua?,” kata Alisa dengan khawatir.

“Siapa bilang kamu sendiri?” ucap seorang pria tua yang mengenakan jas rapi.

“Kakek?!” Alisa berlari kearah pria tua yang merupakan Kakeknya. Kakeknya adalah pemilik saham tambang di Distrik Industri. Setelah mendengar berita tentang insiden kebakaran terhadap perusahaan ayah Alisa, ia mulai mengurus dan membangun ulang kembali tempat itu.

“Maaf ya Kakek baru bisa mengunjungi mu,  Alisa,” Kakeknya mengangkat Alisa dalam pelukanya.

Sambil menangis di pelukan sang kakek, ia bercerita tentang semua yang sudah ia alami selama ini.

“Aku kira Kakek juga sudah mati,” Alisa terhisak.

Kakeknya agak terkejut mendengar itu, seakan-akan ia seperti terkena serangan jantung.

“Sudah…, sudah…. Kamu sudah tidak perlu memikirkanya lagi, ok? Kakek akan tinggal bersama mu sekarang,” Ujar sang kakek sambil membawa masuk Alisa masuk kedalam rumah. Cepat atau lamabat, keluarga mereka akan pulih menjadi seperti sebelumnya lagi.

2 Tahun kemudian.

Alisa telah tumbuh besar menjadi wanita yang cantik. Rambutnya yang berwarna pirang cokelat tipis terikat di belakang dengan tambahan poni didepan, membuatnya tampak seperti seorang model.

Suatu hari ia dan Miss Vita pergi ke rumah panti asuhan yang terletak di tengah kota, tempat Miss Vita di besarkan waktu kecil. Alisa sangat terkenal sekali di kalangan anak-anak di sana dari berbagai umur. Ia juga bertemu dengan seorang anak kecil yang jatuh dengan ceroboh saat itu, Alisa menghampiri dan mengulurkan tanganya kepada anak itu sebelum menangis.

“Sini biar kakak bantu,” pinta Alisa dengan ramah. Anak itu mrngusap air matanya yang hendak keluar dan berterimakasih kepada Alisa. Setelah itu mereka semua bermain bersama.

Ketika Alisa melihat kumpulan bingkai foto yang di pajang di dinding, ia berhasil menemukan Miss Vita berada di salah satu fotonya. Tak hanya itu, ia juga melihat sesuatu yang janggal. Bahwa di dalamnya juga terdapat foto Ibu dan Ayahnya bersama mereka, Alisa terkejut dan langsung menanyakanya. Miss Vita berkata bahwa Ibu dan Ayahnya lah yang telah membangun panti asuhan mereka. Berkat mereka berdua, anak-anak yang kehilangan keluarganya seperti Miss Vita dulu jadi memiliki tempat tinggal sekarang. Itulah mengapa mereka sangat berterimakasih kepada keluarga Alisa.

Setelah mendengar hal itu, Alisa kembali termotivasi. Ia berjanji akan meneruskan semua peninggalan orang tuanya.

Saat umurnya sudah menginjak 14 tahun, ia memilih hidup mandiri dengan bekerja di sebuah kafe yang sering ia kunjungi waktu kecil. Tidak lama untuk membuat karirnya sukses, berkat kecantikanya banyak orang yang mendatangi kafe itu setiap hari hanya untuk melihatnya. Manager kafe yang kewalahan pun terpaksa untuk menambah karyawan lainya untuk membantu.

Hari demi hari telah berlalu, Alisa pulang kerumah setelah bekerja seharian di kafe. Ia merebahkan badanya di atas tempat tidur sebelum mengganti pakaian. Ia teringat akan dirinya waktu kecil, ia bisa bermalas-malasan setiap hari di dalam rumah meski masih dalam pengawasan Miss Vita. Ia juga masih mengingat pelukan hangat dari Ibunya waktu itu, dan juga keramaian Ayahnya yang membuat semuanya menjadi meriah, sampai mereka berdua pergi….

Sesaat ia teringat sebuah buku yang diberikan kepadanya saat pemakaman dulu. Ia belum pernah membukanya sejak saat itu. Ia memeriksa setiap tempat di kamarnya, berharap buku itu belum hilang di tumpukan sampah. Ayahnya pasti benar-benar marah jika hal itu terjadi pikirnya.

Setelah membuka laci di meja rias, ia menemukan buku bersampul hitam yang sudah berdebu. Alisa meniup sedikit debu yang di atasnya dan mulai membaca.

Pada halaman pertama, air matanya menetes tanpa ia sadari. Itu adalah pesan-pesan dari kedua orangtuanya yang belum pernah tersampaikan kepadanya. Beberapa dari tulisan adalah milik Ibunya, sebagian lain adalah Ayahnya. Ia bisa mengenali tulisan mereka dari semua surat balasan yang dikirim kedua orang tuanya waktu kecil. Selain tulisan-tulisan pendek, disana juga terdapat gambaran-gambaran ibunya yang mengatakan,

“Alisa dengan kue manisnya!”.

 

“Kucing pembawa kue!”.

 

“Malaikat kecil kami yang sangat berharga”.

Alisa tertawa geli saat membacanya tanpa menghiraukan air mata yang terus mengalir. Meskipun hanya dari sebuah buku, ia bisa merasakan kembali kehangatan dari kedua orangnya. Seakan-akan mereka ada di sampingnya.

Setelah membaca sampai halaman terakhir, Alisa kembali tenang sambil mengusap air matanya. Saat ia hendak menutup kembali buku itu, sebuah kertas kecil keluar dari dalam sampul buku. Didalamnya ada sebuah kunci kecil terbuat dari besi. Alisa belum pernah melihat kunci itu berada di rumah sebelumnya. Selagi hari mulai larut malam, ia sudah merasa sangat mengantuk dan menyimpan rasa penasaranya untuk besok. Ia meletakkan kembali buku dan kunci yang baru ia temukan tadi kedalam laci.

Keesokan sore harinya, Alisa kembali pulang setelah bekerja seharian di kafe kota. Ia ingat dengan kunci yang baru ia temukan semalam. Dari bentuknya yang kecil, tidak mungkin kunci itu untuk sebuah pintu ruangan. Alisa menanyakanya kepada Miss Vita, namun ia juga tidak pernah melihat pola kunci seperti itu.

“Mungkin itu milik Nyonya, ia terkadang suka menyimpan benda-benda unik seperti itu”.

Miss Vita menyarankan Alisa untuk memeriksa kamar Ibunya sendiri. Alisa pun langsung menuju ke lantai atas. Setengah jam sudah berlalu, tetapi Alisa tidak menemukan apa-apa di dalam kamar. Ia merebahkan tubuhnya sebentar di atas tempat tidur kanopi, ia bisa merasakan sesuatu yang nostalgia dengan lembutnya permukaan kasur.

Disamping tempat tidurnya, ia melihat bingkai foto yang di ambil saat usianya masih berumur 3 tahun. Mereka bertiga bersama Miss Vita berfoto bersama di teras belakang rumah.

Saat ia menghadap ke atas, ia melihat sebuah celah kecil di langit-langit tempat tidur. Ia bangun dan mencoba untuk menggesernya, di dalamnya terdapat sebuah buku yang memiliki segel seperti kunci. Alisa pun mencoba kunci kecil yang ada di tangan kananya dan buku itupun terbuka.

Alisa kembali duduk di atas tempat tidur lalu mulai membaca, isi buku itu berbeda dari buku harian yang ia baca semalam. Lembar demi lembar di penuhi oleh susunan struktur-struktur yang tidak dimengerti oleh Alisa. Alisa terus membolak-balik halaman selanjutnya sampai ia melihat sebuah gambaran sketsa sebuah kota yang di kelilingi oleh dinding. Tepat di luar dinding itu terdapat 4 Distrik yang dikenal sekarang sebagai Distrik Pertanian, Distrik Militer, Distrik Idustri, dan yang terakhir Distrik Pemukiman. Buku itu memuat semua informasi yang terdapat di keempat distrik. Pada halaman selanjutnya, Alisa melihat informasi khusus yang ditunjukan untuk Distrik Pemerintahan, yaitu distrik yang berada di dalam Dinding.

“Seperti yang kita ketahui, kita tinggal di dalam sebuah dinding yang melingkar saling terhubung satu sama lain. Berkat izin dari pemimpin di Distrik Pemerintahan, semua orang diluar dinding bisa  tinggal di tempat sekarang ini. Dengan bahwasan warga yang berasal dari luar dinding di tandai sebagai infected karena virus yang berada di tubuh merkea semua. Tapi bagaimana dengan biaya pembangunan di tempat ini? Apa ada seseorang di dalam sana yang memberikan bantuan? Atau ini adalah hasil kerja keras murni dari para infected yang berusaha untuk bertahan hidup dari serangan makhluk di luar sana selama bertahin-tahun? Mengapa kita tidak diizinkan untuk masuk kedalam dinding mereka sedangkan mereka tetap menerima masukan dari luar dinding? Apa di dalam tubuh kami benar-benar terdapat sebuah virus? Mengapa mereka tidak lebih waspada dengan adanya kami yang mengelilingi mereka, apa tujuan sebenarnya tempat ini dibuat?

Setidaknya itulah pertanyaan yang belum bisa kujawab sampai sekarang. Satu-satunya yang mengetahui  hal itu adalah seseorang yang bekerja di kedua sisi dinding ini. Mungkin aku bisa bertemu denganya suatu hari nanti.

Aku tidak pernah menduga akan menjadi seorang Ibu dari anak yang cantik,  hahaha. Mencari informasi ini tidak semudah seperti sebelumnya lagi dengan tanggung jawab yang baru. Namun aku sama sekali tidak menyesalinya, mungkin aku harus memutuskan mencari semua jawaban dari pertanyaan itu sekarang.

Sekian catatan saya hari ini. Semoga seseorang akan menjawab semua pertanyaan ini suatu hari nanti. Salam, Lisa Fermila”.

Alisa membaca catatan terakhir Ibunya di halaman terakhir sebelum halaman kosong selanjutnya. Ibunya adalah seorang jurnalis yang mencari tahu tentang kebenaran didalam dinding. Ia bersama Ayah Alisa mencari tahu tentang hal itu bersama-sama, tetapi mereka selalu gagal mendapatkan jawabanya. Alisa mendapatkan selembar kertas kecil jatuh dari halaman lainya. Kertas itu tertulis,

“Hai, Alisa. Aku tahu kau pasti akan menemukan buku ini suatu hari nanti. Jika kau membaca buku ini setelah kita sudah berpisah, aku hanya ingin memberi tahumu satu hal penting. Ibu dan Ayah melakukan hal ini hanya untuk mencari rasa ingin tahu kami dan menjawab semua pertanyaan yang ada. Kamu tidak perlu mencari jawabanya, cukup menjadi apa yang sudah kau cita-citakan ok! Ibu dan Ayah sangat bangga kepadamu, Alisa. Meskipun kami berdua tidak bisa melihat mu besar bersama kami lagi, tetapi kami yakin kamu pasti bisa melakukan yang terbaik! Jangan lupa selalu berbuat kebaikan ya, dan juga selalu tersenyumlah di depan orang lain! Karena kesedihan itu adalah hal yang buruk!

Itu saja pesan dari kami berdua, kami harap kamu bisa terus bahagia disana.

Salam dengan penuh kasih sayang, Ibu & Ayah”.

.

Suara langkah berjalan terdengar dari luar kamar. Itu adalah Miss Vita.

“Bagaimana? Apa Nona menemukanya?” tanya-nya.

Alisa mengangguk menjawab pertanyaan Miss Vita. Ia tersenyum berdiri di depan jendela, melihat matahari senja yang hendak tenggelam dari balik dinding besar diluar sana.

“Aku sudah menemukanya kok”.

Alisa berjalan keluar kamar dengan gembira, Miss Vita yang berdiri di samping pintu keherenan melihatnya. Setelah itu ia melangkah masuk untuk merapikan kembali tempat tidur di dalam. Ia juga memperbaiki posisi bingkai foto yang ada di samping tempat tidur setelah melihatnya sebentar.

“Anak kalian telah tumbuh dengan baik Nyonya Lisa, Tuan Fordo”.

Rasa penasaran Alisa semakin tumbuh setiap hari. Ia terus terpikirkan oleh buku yang sudah di tulis Ibunya. Sebenarnya apa yang ada di balik dinding itu? Bagaimana keadaan orang-orang disana? Apa yang sudah terjadi sebelum dinding-dinding ini di bangun? Alisa sering melamun saat sedang bekerja di kafe memikirkan semua hal itu. Sedikit demi sedikit, ia mulai mencari semua informasi mengenai Distrik itu. Saat hari libur, ia pergi membaca buku di dalam perpustakaan rumahnya, atau pergi ke panti asuhan untuk mencari kabar terbaru disana.

Ia tidak sengaja mendengar sebuah percakapan pelanggan mengenai pendaftaran tahunan Distrik Militer. Alisa menanyakan hal itu ke pada managernya

“Militer? Aku rasa itu orang-orang yang bertugas untuk menjaga keamanan disini dan pergi ke dunia luar mempertaruhkan nyawa mereka untuk mencari informasi”.

Alisa kemudian menanyakan tentang apa yang ada di dalam dinding.

“Aku tidak tahu apa-apa mengenai itu, tetapi aku dengar beberapa orang didalam Distrik Militer bisa mendapatkan akses untuk ke dalam sana”.

Perlahan-lahan secara pasti Alisa mendapatkan jawaban. Berdasarkan informasi yang ia dapat, Distrik Militer selalu membuka perekrutan setiap tahunya bagi yang berminat dan lolos dalam ujian tes di sana. Ia sering mendengar keluhan costumer pelangganya yang mengeluh karena gagal dalam ujian tes. Berkat kepribadianya yang baik dan cantik, dengan mudah ia bisa mendapatkan semua informasi mengenai ujian tes itu.

Ia mulai mempelajari tentang selak beluk Divisi Militer dengan apa yang mereka lakukan, apa tujuan mereka, dan bagaimana Divisi tersebut di bentuk. Ia mencari semua itu hanya untuk menjawab rasa ke ingin tahuanya, persis seperti kedua orang tuanya.

Disuatu malam, ia terpikirkan sesuatu.

“Bagaimana jika aku menjadi salah satu dari mereka ya?”

 

***

 

Seiring tahun berlalu, Alisa telah memikirkan akan menjadi seperti apa dia kedepanya. Ia telah memutuskan untuk mendaftar menjadi satuan Divisi Militer, hal itu dilakukanya untuk semua pertanyaan Ibunya yang belum terjawab sampai sekarang. Dengan bergabung dengan Divisi tersebut, ia bisa mendapatkan kesempatan untuk masuk ke dalam dinding, sesederhana itulah Alisa memikirkanya.

Saat ia sudah siap, ia memberitahu Miss Vita tentang tujuanya.

“Eh? Bibi tidak marah?” tanya Alisa.

“Kenapa? Aku tidak mengerti kenapa Nona mengira saya akan begitu”

“Ya…, aku kira Bibi akan mencegahku. Bibi tahu sendiri bukan, bekerja disana tidaklah semudah seperti menyajikan kopi untuk pelanggan….”. Alisa menghentikan ucapanya dengan ekpresi sedikit khawatir. Lah kenapa malah Alisa yang khawatir?

“Bukanya itu langkah yang bagus, Nona sudah memiliki tujuan Nona sendiri sekarang. Saya juga yakin Nona sudah memikirkan semuanya sebelum memilih pergi kesana,” jelas Miss Vita meyakinkan Alisa.

Alisa mendapatkan kepercayaanya kembali setelah mendengarnya. Ia memeluk Miss Vita dan berterimakasih karena telah meyakinkanya kembali.

“Terimakasih, Bi Vita”. Untuk pertama kalinya Alisa menyebut namanya. Miss Vita pun tersenyum membalas pelukan Alisa.

Alisa telah mempelajari beberapa hal mengenai Divisi Militer dan semua informasi yang ia dapatkan mengenai tes ujian tersebut. Pendaftaran akan dibuka pada akhir tahun, yang mana sekitar 5 bulan lagi dari sekarang. Karena waktunya yang mulai padat dengan pekerjaanya, sang manager mengizinkanya untuk memakai kamar yang ada di kafe agar Alisa dapat bermalam disana. Dengan senang hati pun Alisa menerima tawaranya dan tinggal di sana untuk sementara waktu setelah meminta izin kepada Miss Vita.

Pelanggan selalu datang setiap hari, kafe itu menjadi lebih terkenal bukan hanya karena suasana yang Estetik tetapi mereka juga tertarik oleh kecantikan Alisa. Bahkan dari mereka rela hanya memesan segelas kopi hanya untuk melihatnya, dengan begitu Alisa dapat memanfaatkan suasana tersebut untuk peluang bisnis dengan menawarkan berbagai makanan ringan kepada mereka.

Hari pendaftaran sudah tersisa 7 hari lagi. Pada sisa waktu itu, Alisa lebih banyak menghabiskan waktunya lagi untuk terus belajar dan belajar selepas bekerja. Ia juga membaca buku catatanya kembali jika kafe sedang sepi.

Kring! Bunyi bel pintu berbunyi seiring seorang pria mendorongnya dari luar. Alisa langsung menutup catatanya dan berdiri sigap untuk menyambut pelangganya.

“Selamat datang!” sambut Alisa sambil tersenyum.

“Eh? I-iya, anu…,” pria itu seketika terlihat bingung melihat Alisa. Ini pertama kalinya Alisa bertemu dengan pelanggan seperti itu.

“Tentang lowongan pekerjaan di depan, apa aku bisa bekerja disini?” Tanya-nya.

Alisa ingat bahwa manajernya masih mencari seorang staff pelayan tambahan, ia pun pergi keruang belakang untuk menanyakan hal itu kepada managernya. Mengingat salah satu pelayan yang sudah lama bekerja disitu sering sakit, Alisa mendapatkan rekan kerja barunya sekarang.

 

***

 

Hari pendaftaran telah tiba , Alisa pergi berangkat ke Distrik Militer pada saat itu juga. Kira-kira butuh 3 jam perjalanan menuju kesana dengan transportasi umum. Alisa berjalan di tengah keramaian orang-orang yang juga ikut mendaftar, ia tidak menyangka ada sebanyak itu. Setelah mengambil formulir dan mendapatkan nomor urut dari pos terdekat, Alisa menunggu sampai giliran tiba.

Malam telah tiba, Alisa beranjak turun dari kereta kuda yang ia naiki.

“Hari ini melelahkan sekali…. Secangkir teh hangat mungkin akan membantu”

Alisa segera masuk kedalam kafe, melihat sang manager yang sedang merapikan bahan-bahan  di belakang meja penerima tamu.

“Selamat datang kembali” sambut sang manager, “Bagaimana hasilnya?”.

Alisa meletakan tasnya di atas meja dan segera mengambil cangkir putih favoritnya untuk membuat teh.

“Aku tidak tahu, hasilnya akan dikirim sekitar 2-3 hari dari sekarang. Aku tidak menyangka mengantri seharian penuh juga bisa melelahkan…,” Alisa mengaduk teh yang kian berubah warna menjadi kemerahan, lalu duduk di salah satu kursi yang bersampingan dengan jendela.

“Kenapa kau tidak mengambil cuti saja untuk besok? Kau perlu istirahat yang cukup sampai hasilnya datang nanti,” saran sang manager.

“Tapi siapa yang akan mengurus kafe nanti?”

“Tenang, pria magang yang datang kemari itu pasti bisa mengatasinya”.

“Hm, baiklah! Aku juga penasaran bagaimana keadaan orang-orang di rumahku setelah sekian lama tidak bertemu mereka,” Alisa mulai mengangkat cangkir dan meminum teh manisnya dengan tenang.

 

.

.

.

 

“Aku lupa menambahkan gula…”.

 

***

 

Keesokan harinya Alisa pulang kerumah. Di depan pintu, ia disambut kembali oleh Miss Vita.

“Selamat datang kembali, Nona Alisa”.

Mereka berdua saling bertukar cerita seharian. Kakeknya yang mendengar dari Miss Vita bahwa Alisa mendaftar menjadi satuan militer datang menjenguknya. Kakeknya khawatir akan terjadi sesuatu kepadanya, tetapi Alisa terus meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja. Dia tidak akan menyia-nyiakan waktu yang telah ia habiskan selama ini untuk belajar. Kakeknya pun tidak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan kuat Alisa, ia berpesan agar Alisa selalu berhati-hati dimanapun ia berada. Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama semalaman.

Saat pagi telah tiba, Miss Vita membangunkan Alisa di kamarnya dengan sebuah surat bersampul coklat di tangan. Surat itu berisi tentang informasi kelulusan pendaftaran militer 2 hari yang lalu. Alisa sangat senang saat membacanya, Miss Vita juga ikut mengucapkan selamat kepada Alisa. Dalam rangka seleksi selanjutnya, ia diharuskan untuk pindah ke dalam Asrama yang berada di Distrik Militer besok. Ia membawa segala keperluanya di dalam koper dengan bantuan Miss Vita pagi hari itu. Alisa akan berangkat mulai besok pagi dari tempat kerjanya, jadi dia akan kembali ke sana hari ini.

Alisa berpamitan untuk terakhir kalinya dengan Miss Vita dan 4 orang pelayan lainya. Ia merasa sedih kali ini karena akan berpisah jauh dengan mereka semua untuk sementara waktu.

“Sampaikan salamku kepada Kakek ya,” titip pesan Alisa kepada Miss Vita. Kakeknya sudah pergi bekerja sebelum matahari naik. Dia benar-benar orang yang sibuk.

Miss Vita pun mengangguk, “Kami semua akan selalu menunggu Nona disini, kembalilah kapan pun saat Nona merasa lelah”.

Mereka berdua tersenyum selagi saling berhadapan. Alisa mulai membalikkan badanya dan berjalan menuju gerbang rumah. Ia juga berpamitan kepada semua orang yang bekerja disana saat di jalan. Alisa akan benar-benar hidup lebih mandiri mulai sekarang.

Alisa kembali ke kafe dan bekerja seperti biasanya untuk terakhir kali. Ini adalah hari terakhir ia berada di Distrik Pemukiman. Setelah malam tiba, Alisa duduk di tempat seperti biasa sambil menikmati secangkir kopi susu panas sebelum tidur.

“Apa kau yakin akan pergi? Kau bisa tetap bekerja disini jika kau berubah pikiran,” sang manajer meyakinkanya sekali lagi.

Alisa menggelengkan kepalanya.

“Terimakasih atas tawaranya, tapi aku punya alasanku sendiri. Lagipula, ini kesempatan yang selalu kunantikan selama ini….” Alisa meminum kopi panasnya dengan perlahan di cangkirnya yang berwarna putih. Sambil melihat pantulan dirinya sendiri dari jendela di samping tempat ia duduk, dengan senyuman kecil sambil mengingat semua hal yang sudah ia lalui selama ini. Apakah dia akan bisa menjawab semua pertanyaan yang belum pernah terjawab oleh Ibunya? Atau dia akan berhenti di tengah jalan. Semuanya tergantung di tangan Alisa, ia sudah bersiap dengan apapun yang akan terjadi.

Keesokan paginya ia berpamitan dengan sang manager. Manager memberikanya sebungkus kopi susu bubuk kepadanya sebagai tanda terimakasih telah bekerja denganya.

“Oh ya, kemana perginya si anak magang itu? Aku tidak melihatnya seharian ini” Alisa bertanya.

“Oh anak itu, dia juga sudah tidak lama lagi bekerja disini. Sepertinya dia sudah menemukan rumah baru,”

“Kalau begitu siapa yang akan mengurus kafe nanti?”

“Tenang, Mas Fari dan aku akan kembali bekerja seperti biasanya. Gini-gini aku juga masih kuat bekerja loh,” jelas sang manager.

Alisa pun tertawa kecil dan berpamitan sekali lagi denganya sebelum keluar pintu, ia penasaran kemana perginya anak magang itu. Kemudian ia menunggu angkotan umum untuk pergi ke tujuan barunya, Distrik Militer.

Sesampai disana, perhatianya tertarik sebentar ke lingkungan disekitar. Tempat itu lebih luas dan tidak banyak bangunan yang berdiri seperti di Distrik Pemukiman. Alisa mengikuti peta yang terdapat di surat yang ia terima saat itu, Asrama terletak beberapa puluh meter perjalanan ke utara. Dalam perjalananya ia melihat banyak lapangan luas yang sepertinya menyatu dengan hutan di belakangnya. Alisa terus berjalan sampai ketempat tujuanya, gedung asrama itu cukup besar yang terdiri dari 5 lantai. Alisa melihat suratnya kembali, kamarnya menujukan angka 305 yang berada di lantai 3. Setelah membuka pintu kamarnya, ia mendapati sebuah ruangan kosongan yang sepertinya sudah lama tidak di tinggali. Alisa membuka kacanya lebar-lebar sambil menghirup udara segar. Ia melihat terdapat sebuah halaman yang cukup luas di belakang Asrama, sepertinya ada area khusus yang digunakan untuk tempat berkebun.

Melihat kamarnya yang begitu kotor, Alisa tidak punya pilihan lain untuk segera membersihkanya.

“Yaaah, mau bagaimana lagi. Inilah tempat tinggal baru ku sekarang”.

Alisa meletakkan kopernya di ujung ruangan dan ransel kecilnya di atas meja rias kecil. Kehidupan barunya telah di mulai dari sekarang.

 

.

 

.

 

End.

PROJECT WARFARE – ALISA FERMILA . NEW LIFE – COMPLETE

Project By : Arez <Berserker>

Written by : Vink <LVL>

Art by : Dawnzz

Published : 29 August 2021


Vinko
Add Comment
belajar menulis, Original character, project warfare
Friday, September 3, 2021
  • Tweet
  • Share
  • Share
  • Share

Related Posts

Comments


EmoticonEmoticon

Labels

Powered by Blogger.

About

Copyright © 2019 Warehouse All Right Reserved
Created by Arlina Design