Kicauan burung
terdengar dari luar teras rumah yang di kelilingi oleh tumbuhan hijau. Seorang
gadis cantik menghabiskan waktu makan siangnya bersama kedua orang tua yang ia
cintai.
“Alisa, apa
yang kau inginkan untuk hadiah ulang tahun mu besok?” Ibunya bertanya.
“Kue!”
Anaknya yang baru berusia 7 tahun menjawab dengan antusias.
Ibu dan
Ayahnya tertawa melihat kelakuan Alisa yang sangat polos sekali di hadapan
mereka. “Hanya itu?”.
“Iyap! Mama
tau kan, saat Alisa ingin memakan kue manis Ibu selalu melarangku agar tidak
memakanya terlalu banyak. Kali ini aku ingin makan kue manis sebanyak yang
Alisa mau!”.
“Apa kamu
tidak khawatir nanti gigimu bolong?” Ayahnya yang sedang membaca koran kini
ikut menggoda Alisa.
“Tentu saja
tidak papa, aku kan selalu merawat gigi ku setiap malam. Lihat, Aaaaaa” Alisa
menunjukan gigi-gigi kecilnya kepada mereka berdua. Kedua orangtuanya pun
kembali tertawa melihat kelakuan anak perempuanya yang menggemaskan.
Keesokan
harinya mereka bertiga pergi ke sebuah kafe yang berada di tengah kota.
“Kring!”
Bunyi bel pintu yang selalu berbunyi saat seseorang masuk kedalam. Sang manager
kafe pun menyambut mereka dengan hangat.
“Selamat
datang, apa yang bisa saya ambilkan untuk anda?”
“Kue manis!”
Teriak Alisa.
Suasana kafe
yang sangat tenang, diringi putaran rekaman jazz yang membuat semuanya terasa
sempurna. Mereka bertiga duduk di meja belakang bersampingan dengan kaca yang
menghadap ke pinggir jalan, Alisa bisa melihat banyak sekali orang-orang
berlalu lalang dari dalam ruangan.
Selagi menunggu
pesanan mereka datang, Alisa saling bertukar cerita dengan kedua orang tuanya.
Orang tuanya adalah seorang pengusaha baju yang memiliki pabrik sendiri di
Distrik Industri. Perusahaanya sangat terkenal karena desain yang mereka buat
selalu memuaskan para pelanggan. Tak lepas dari Alisa yang juga gemar
mengumpulkan baju baru yang diberikan oleh kedua orang tuanya, ia sangat senang
sekali saat melihat sesuatu yang cantik. Bahkan ia pernah terpikir ingin
menjadi seorang model saat besar nanti, setiap hari ia berlagak seperti seorang
aktris di depan cermin lemarinya sendiri di kamar.
“Ini dia
pesanan Tuan dan Nyonya,” staff pelayan datang bersama beberapa hidangan yang
sudah di pesan. Sepotong kue Black Forest
dengan tambahan coklat tabur, 2 potong Cream
Puff yang sangat lembut dan 3 buah pudding
jeruk dingin yang manis. Alisa melihat semua hidangan itu dengan mata
berbinar-binar.
Ibunya yang
duduk didepan tersenyum melihat Alisa yang termangap di depan meja.,“Hm? Apa
Ibu salah pesan?”.
“Apa aku
benar-benar boleh memakan semua ini?” Tanya Alisa dengan ragu-ragu.
“Tentu saja,
bukanya kau sendiri yang bilang kemarin?”, sahut Ibunya kembali.
Alisa
terlihat senang mendengarnya, ia turun dari kursi dan pergi untuk memeluk Ibu
yang ada di depanya. Dilanjutkan dengan memeluk Ayahnya juga yang berada di
samping.
“Terimakasih
Mama, Papa!”
Setelah
kembali ketempat duduknya, ia mulai mengambil sesendok garpu dan mulai
mengambil potongan kecil dari kue coklat yang ada di atas meja. Dari
ekpresinya, setelah mengambil satu gigitan kecil saja dia sudah merasa seperti
berada di dunia lain.
“Manisnyaa~”
Setelah
selesai menghabiskan semua hidangan, mereka kembali berkeliling kota seharian
untuk menghabiskan waktu bersama.
Alisa merasa
sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya, karena hal
tersebut tidak terjadi setiap hari. Alisa hanya dapat menghabiskan waktu
bersama mereka di hari ulang tahunya saja. Dikarenakan pekerjaan kedua orang
tuanya yang selalu sibuk, ia tinggal bersama seorang pelayan di rumah. Karena
itu ia menghabiskan waktu setiap detiknya bersama mereka dengan gembira.
Mereka
berbelanja bersama, bermain bersama, dan berjalan di taman bersama. Meski hanya
satu hari saja, Alisa merasa sangat senang sekali bisa menghabiskan waktu
dengan mereka sampai matahari terbenam.
Setelah
malam tiba, Alisa berpamitan kembali dengan kedua orang tuanya di depan rumah.
Ia tidak akan bertemu lagi dengan mereka sampai tahun depan, namun hal itu
tidak membuatnya sedih. Karena dia yakin akan bertemu dengan mereka lagi suatu
hari nanti.
Alisa
kembali masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarnya di temani oleh seorang
pelayan. Ia mandi, gosok, gigi, lalu
memakai baju piyama kesukaanya. Setelah meminum segelas susu rutin yang di
bawakan oleh salah satu pelayan setiap hari, ia merebahkan badanya langsung ke
tempat tidur. Meskipun ia merasa sedikit kesepian bahwa ia harus menunggu lama
lagi untuk bertemu dengan kedua orang tuanya kembali, ia sudah sangat beryukur
bisa menghabiskan waktu bersama mereka walau hanya sebentar saja.
Sesaat
kemudian Alisa pun tertidur, dengan senyuman kecil terlukis di wajahnya. Ia
akan selalu mengingat momen bahagia bersama kedua orangtuanya setiap tahun.
***
Matahari
kembali bersinar terang di keesokan hari. Seorang pelayan masuk ke kamar membangunkan
Alisa dari tempat tidur. Sebagai seorang wanita, ia memiliki jadwal yang sibuk
untuk dilakukan setiap hari.
Srek! Sang
pelayan membuka lebar-lebar tirai jendela yang ada di dalam kamar. Cahaya sinar
mentari pagi langsung menerangi seisi ruangan.
Alisa yang
masih tertidur kini terganggu oleh terangnya sinar mentari yang mengenai
wajahnya, “Uggh…”.
“Nona Alisa,
kau harus bangun sekarang. Banyak hal yang harus kita lakukan hari ini”. Sang
pelayan menghampiri Alisa yang masih
terbaring di atas tempat tidur.
“Eghh…,
biarkan aku tidur sebentar lagi…,” Alisa menggulung dirinya sendiri dengan
selimut seperti kue bolu.
“Tidak bisa,
pelajaran pertama kita akan dimulai 5 menit lagi. Jadi kau harus bersiap-siap
sekarang” Sang pelayan langsung mengangkut Alisa yang masih tergulung di dalam
selimut. Pelayan yang menjadi pengasuh sekaligus gurunya itu bernama Miss Vita.
Terdapat 5
pelayan yang bekerja di rumah Alisa. Miss Vita bertugas sebagai kepala pelayan
sekaligus bertanggung jawab untuk membimbing Alisa agar tumbuh besar dengan baik.
Dimulai dari
bagaimana caranya berjalan, duduk, makan, minum, merawat kulit & rambut,
serta cara berpakaian layaknya seorang wanita. Setiap hari mereka juga
mengadakan kelas khusus yang di tunjukan
untuk Alisa.
Senin, Pelajaran
Bahasa; Selasa, Ilmu Pengetahuan alam; Rabu, Matematika; Kamis, Berkebun;
Jum’at dan sabtu, Tata Krama. Jadwal yang terus terulang di setiap minggu.
Hari Senin
Alisa akan belajar bagaimana berbicara dengan tata bahasa yang benar. Selasa ia
akan belajar mengenai struktur bagian tubuh pada manusia dan hewan. Rabu adalah
hari yang paling berat untuknya, yaitu Matematika. Pada hari Kamis, ia akan
pergi ke kebun bersama Miss Vita yang berada di samping rumahnya untuk belajar
banyak hal mengenai tumbuhan. Sedangkan hari Jum’at dan Sabtu ia mempelajari
berbagai tata kerama sehari-hari. Semuanya di lakukan dalam bimbingan Miss
Vita.
Alisa hanya
dapat bersantai dengan bebas pada hari Minggu. Biasanya ia hanya menghabiskan
waktu seharian itu di kamarnya, bermain bersama kumpulan boneka yang ia punya.
Waktunya
terus berjalan bersama Miss Vita. Alisa terus mempelajari hal-hal yang baru
setiap hari bersamanya. Di umurnya yang baru 8 tahun, ia sudah mengerti tentang
kewajiban seorang wanita. Seperti pandai menjahit dan memasak, namun sekali
lagi ia tetaplah seorang gadis kecil. Terkadang ia tertangkap basah oleh Miss
Vita karena mencuri cemilan tanpa izin tanpa sepengetahuannya pada malam hari.
Ia sangat senang memakan cemilan disaat dia bosan, terutama kue krim yang
manis.
Setelah
beberapa bulan dilewati, ia semakin tumbuh besar. 2 hari lagi adalah hari ulang
tahunya yang ke-9. Ia akan kembali bertemu dengan ayah dan ibunya sebentar lagi.
Hari ini dia bersiap-siap untuk menunggu kepulangan mereka berdua nanti malam. Dengan pakaian yang rapi
dan cantik, ia berdiri di depan pintu bersama Miss Vita.
Tidak lama
kemudian, sebuah kereta kuda terlihat memasuki halaman rumah. Alisa sangat
senang sekali melihatnya sambil melambaikan tanganya. Dia sudah tidak sabar
bertemu dengan kedua orang tuanya lagi.
Saat kereta
kuda itu sudah berhenti di depan rumah, Ayah dan Ibunya turun dari kereta yang
sama. Para pelayan pun pergi untuk membawa barang-barang bawaan mereka.
“Selamat
pulang kembali Papa, Mama,” Sambut Alisa.
Ayahnya yang
turun duluan menghampiri Alisa, menepuk kepalanya lalu langsung masuk ke dalam
rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Alisa
bingung apa yang sudah terjadi kepada Ayahnya, kemudian ia bertemu dengan
ibunya.
“Papa kenapa
Ma?” tanya Alisa bingung.
“Papa lagi
pusing, mari kita biarkan dia beristirahat dulu malam ini ok?”.
Alisa
mengerti dan langsung memeluk Ibunya setelah sekian lama.
“Selamat
pulang, Mama!”
***
Pagi telah
datang. Setelah menghabiskan waktu semalaman bersama Ibunya, Alisa kembali
bercerita tentang hari-harinya lagi bersama Miss Vita kepada Ibunya di ruang
tengah.
“Lalu, saat Bibi
Vita melihatku di dapur. Aku langsung lari selagi mencoba untuk menghabiskan
sisa kue manis yang masih ada di tanganku!”.
Ibunya
tertawa geli mendengar cerita Alisa. Miss Vita hanya mengiyakan hal itu sambil
tersemyum tipis. Alisa juga ikut
tersenyum melihat Ibunya yang tertawa. Dibalik itu, Alisa masih mengkhawatirkan
Ayahnya yang belum keluar dari kamar sejak tadi malam.
Sesaat
kemudian, Alisa melihat Ayahnya turun dari tangga ruang tengah. Ia langsung
menghampiri Ayahnya dan memasang ekpresi kesal sambil mengembungkan pipinya,
membuat langkah ayahnya terhenti sesaat “Eh? Ada apa Alisa?”.
“Papa
mengabaikanku semalam, Papa membuat Alisa khawatir tau”.
“Oh itu…
Hahaha… Semalam Papa kepikiran sesuatu jadi kepala Papa pusing. Maafkan papa
ya?” Ayahnya mengusap-usap kepala Alisa yang sedang kesal.
Wajah
cemberut Alisa seketika tersenyum manis kembali.
“Kalau
begitu sekarang kita bisa main bersama lagi kan?” Alisa mengajak Ayahnya dengan
semangat.
“Iya, iya.
Kita akan akan bermain sampai tidak bisa bergerak lagi!”
Alisa
memasang ekpresi takut seketika.
“E-eh? Papa
cuma bercanda kok!”. Mereka semua pun tertawa.
Keesokan
harinya mereka merayakan ulang tahun Alisa yang ke-9 di rumah.
“Selamat
ulang tahun!” Para pelayan menembakan sebuah pernak-pernik secara bersamaan.
Alisa yang baru memasuki ruang tengah bersama Miss Vita tersenyum bahagia
melihatnya. Kedua orang tuanya juga sudah menunggu nya di samping kue ulang
tahun dengan lilin yang siap di tiup.
“Selamat
ulang tahun!” ucap Ibunya. Ayahnya yang berdiri disebelah mengeluarkan sebuah
kado kotak berwarna putih, itu adalah baju baru yang Alisa inginkan saat mereka
berbelanja tahun lalu. Alisa langsung menuju ruang ganti memakai pakaian
barunya lalu kembali ke ruang tengah.
Alisa
terlihat ragu-ragu saat menunjukan penampilanya. Itu adalah Dress lengan panjang
setengah kaki berwarna putih. Alisa meminta pendapat tentang penampilanya di
depan semua orang, “Bagaimana?...”.
“Kau
terlihat cantik, Alisa” Ibunya menjawab bersama pelayan lainya yang menepuk
tangan dari belakang. Wajah Alisa memerah seketika, selanjutnya adalah waktu
peniupan lilin kue.
“Apa
harapanmu untuk tahun ini, Alisa?” Tanya sang Ibu selagi menyamakan tingginya
dengan Alisa sambil memegang kue ulang tahun di kedua tangan.
“Semoga
Alisa bisa tinggal bersama Mama dan Papa lebih lama lagi,” Alisa meniup lilin
kecil berwarna merah di atas kue setelah mengucapkan harapanya. Ibu dan Ayahnya
tersenyum kecil mendengar ucapan Alisa. Kemudian mereka berkumpul dan bermain
bersama lagi setelah pemotongan kue di lakukan.
Berbagai
macam permainan mereka mainkan di siang itu, salah satunya adalah memukul
piñata dengan tongkat plastik kecil. Para pelayan dan Miss Vita juga ikut
bergabung dalam permainan mereka seperti membuat berbagai bentuk dengan kertas
lipat, meniup balon dan bahkan fashion model. Mereka semua bersenang-senang
bersama di ruang tengah rumah yang besar.
Beberapa jam
kemudian, seorang pelayan pria yang merupakan supir kereta kuda semalam datang
berbisik kepada Ayahnya. Alisa terlihat bingung sejenak dengan apa yang mereka
bicarakan. Setelah itu, Ayahnya menghampiri dirinya yang di tengah saat sedang
bermain.
“Maaf ya
Alisa, Papa harus pergi sekarang. Ada pekerjaan yang harus Papa selesaikan,”
ucap Ayahnya dengan nada sedikit menyesal kepada Alisa.
“Eeeeh? Tapi
ini belum malam Pah, apa Papa benar-benar mau pergi sekarang?” Tanya Alisa
sekali lagi untuk meyakinkan Ayahnya.
“Papa
sebenarnya juga tidak mau, tapi Papa baru saja mendapat panggilan untuk segera
kembali kesana. Papa janji, kita akan bertemu lagi nanti secepatnya, ok?”
Ayahnya tersenyum lemah di depan Alisa.
Alisa tahu
bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu bahwa Ayahnya adalah seorang
pekerja keras yang penuh dengan tanggung jawab. Jika dia tidak membiarkanya
pergi, itu hanya akan menambah beban Ayahnya. Pada akhirnya Alisa hanya bisa
mengangguk kepada ayahnya dengan cemberut, “Mhm…”.
Ayahnya
kembali beranjak berdiri bersiap untuk pergi. “Tenang, kali ini hanya Ayah yang
akan pergi. Mama akan tinggal disini sekarang bersamamu”.
Alisa
terkejut mendengarnya, “Eh? Benarkah?!”, ia langsung menoleh ke arah Ibunya
yang tersenyum lembut ke arahnya. Mata Alisa terlihat terbinar-binar
seakan-akan tidak mempercayai apa yang baru saja terjadi. Ia kembali melihat
Ayahnya lagi dan di balas oleh senyuman lainya. Ia berlari dan memeluk Ayahnya dengan
erat, “Janji ya?”.
“Iya, Papa
akan mengusahakanya kok”.
Alisa kemudian
melepaskan ikatan rambutnya dan memberikanya kepada sang Ayah, “Ini sebagai
tanda janji Papa, Papa harus mengembalikanya lagi nanti ok?”, Alisa lalu kembali berlari menuju pelukan Ibunya.
Ikat rambut itu adalah hadiah ulang tahun pertamanya saat berumur 3 tahun.
Setelah itu
Ibunya mengucapkan salam terakhir kepada Ayahnya dengan ciuman di pipi dibalas
dengan ciuman di kening. Kemudian mereka berdua mengantar Ayahnya kedepan pintu
sampai pergi menghilang dari depan halaman rumah. Alisa merasa sedikit sedih
karena hanya menghabiskan waktu dengan Ayahnya sebentar, namun sekarang Ibunya
akan menemaninya mulai sekarang.
“Ayo kita
masuk,” ajak ibunya kembali masuk kedalam rumah. Alisa langsung menghilangkan
rasa sedihnya dan kembali tersenyum.
Mereka
melanjutkan pesta itu sampai matahari tenggelam. Alisa sekarang sudah tidak
tidur sendirian lagi, sekarang ada Ibunya yang menemani. Sebelum tidur, Ibunya
menceritakan sebuah dongeng yang biasa ia ceritakan dahulu sebelum Alisa tidur.
Cerita itu
tentang seorang remaja yang bercita-cita untuk mengetahui dunia luar. Akan
tetapi, saat dalam perjalananya ia di halangi oleh sebuah tembok raksasa besar
yang tidak ada ujungnya. Remaja itu sudah berjanji bahwa dia tidak akan
menyerah, ia memutuskan untuk terus mencari jalan masuk untuk melewati dinding
itu.
Namun setiap
waktu yang dia habiskan tidak membuahkan hasil sama sekali. Saat ia sudah
berada di ujung harapan, ia bertemu dengan seseorang yang juga sedang berjuang
mencari jalan masuk untuk melalui tembok besar itu. Akan tetapi hasilnya tetap
sama, tidak satupun dari mereka yang berhasil melewatinya. Melainkan, mereka
telah menemukan sesuatu yang lebih berharga dari apa yang mereka kejar selama
ini. Sesuatu yang akan selalu mereka jaga dengan sepenuh hati. Setelah beberapa
lama, mereka pun tidak peduli lagi dengan apa yang ada di balik dinding itu.
Pada hari itu mereka berdua berjanji, akan menjaga malaikat kecil yang sudah di
karuniakan kepada mereka berdua sampai saat ini.
Saat cerita
telah berakhir, Alisa selalu tertidur dengan pulas. Ibunya yang tidur di
sebelahnya mengelus pelan wajah Alisa. Ia senang bisa bersama malaikat kecilnya
sekali lagi setelah sekian lama.
“Maaf ya,
Mama sudah meninggalkanmu selama ini. Mama berjanji, akan selalu menjagamu
mulai sekarang”.
Mereka
berdua pun tertidur di tengah malam yang di penuhi oleh bintang.
***
Hari lainya
telah hadir di dalam sebuah keluarga yang bahagia. Miss Vita memasuki ruangan
dan membuka tirai jendela selebar-lebarnya. Alisa dan Ibunya masih tertidur
pulas bersama di atas tempat tidur. Miss Vita tersenyum sejenak melihat
kelakuan Ibu dan Anak yang sama, ia pun segera meninggalkan ruangan agar tidak
membangunkan mereka berdua. Ia merasa tidak berhak mengganggu momen di antara
mereka.
Namun pada
akhirnya mereka berdua masih tertidur sampai jam makan siang tiba.
“Nyonya dan
Nona Alisa, Bangun!” Miss Vita menarik selimut mereka berdua dan membiarkan
cahaya matahari mengenai wajah mereka.
“SILAU!”
***
Alisa
kembali melakukan rutinitasnya setiap hari seperti biasa. Tetapi kali ini
hampir semua kegiatan ia lakukan bersama Ibunya. Mulai dari mandi bersama,
makan bersama, belajar bersama, bahkan mereka berdua pergi ke taman belakang
untuk membolos dari jam pelajaran matematika Miss Vita.
“Kelakukan
Ibu dan anak sama saja…,” Miss Vita menepuk dahinya sendiri sambil menghela
napas melihat Alisa dan Ibunya sedang bermain bersama di taman.
Setiap hari
Alisa menghabiskan waktu bersama Ibunya. Disaat menyangkut hal tentang pakaian,
Ibunya selalu maju kedepan. Ia menyarankan Alisa berbagai macam pasang baju yang
belum pernah ia pakai sebelumnya. Ibunya juga sangat pandai berkebun, Alisa
selalu semangat belajar saat berada di
dekat Ibunya dan mencatat semua hal itu di buku harianya setiap hari. Sejak
saat itu, Alisa tidak pernah merasa sedih lagi. Mereka terus bersenang-senang
bersama selama 7 bulan terakhir.
Setidaknya
itulah yang terjadi.
Keesokan
paginya, seorang petugas yang berasal dari tempat Ayahnya bekerja datang kerumah.
Alisa melihat Ibunnya sedang berbicara dengan orang itu dari atas tangga.
Karena suatu alasan, Ibunya terlihat terkejut di tengah pembicaraanya. Setelah
kembali ke atas, ia memberi tahu Alisa bahwa ia harus pergi sekarang juga. Ia berjanji tidak akan lama dan akan pulang
dengan cepat, Alisa pun menyutujuinya. Ia sama sekali tidak tahu apa yang
terjadi, ibunya langsung bergegas pergi tanpa membawa apapun bersama orang yang
datang kerumahnya tadi.
Saat Alisa
menanyakan hal itu kepada Miss Vita, Miss Vita selalu saja menjawab, “Nyonya
sedang ada urusan mendadak, dia sudah bilang akan pulang dengan secepatnya
kepada bibi. Jadi mari kita tunggu saja ya”.
Setelah
menunggu 4 hari kepergian Ibunya, Alisa tidak pernah melihatnya datang di pintu
depan halaman. Pada siang itu Miss Vita mendapat panggilan masuk dan segera
mengajak Alisa untuk pergi keluar rumah.
“Kemana kita
akan pergi?” Tanya Alisa.
“Kita akan
bertemu dengan Nyonya sebentar lagi, jadi jangan sedih ya?” Sahut Miss Vita
sambil tersenyum. Mendengar hal itu Alisa merasa lega dan senang kembali.
Walaupun dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka pergi menaiki kereta
kuda pribadi yang sudah menunggu di depan.
Sesampai di
sana, mereka memasuki sebuah gedung bertingkat di tengah kota yang menjadi
pusat rumah sakit di Distrik Pemukiman. Ini adalah waktu pertama kalinya ia
berjalan keluar rumah dengan Miss Vita.
“Dimana
kita?” Tanya Alisa.
“Sebentar
lagi kita sampai kok” jawab Miss Vita sambil memegangi tangan Alisa.
Beberapa
menit kemudian, mereka sampai di lantai 3. Saat memasuki ruangan yang cukup
luas, ia melihat Ibunya duduk tak berdaya di depan tirai plastik. Ibunya
seketika memeluk Alisa dengan erat, sementara Alisa masih tidak tahu apa yang
sedang terjadi. Alisa pun menanyakan keberadaan Ayahnya, namun Ibunya sendiri tidak
menjawab. Saat Alisa diajak masuk kedalam tirai itu, Ia melihat seseorang
terbaring di atas tempat tidur dengan wajah yang sudah tidak bisa dikenali
lagi. Alisa langsung terdiam tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Orang itu
memiliki kulit berwarma hitam rapuh dengan luka bakar serius di bagian
kepalanya. Meskipun begitu, Alisa langsung mengerti. Ia sangat tidak ingin
mempercayainya sedikitpun, namun ia tidak pernah melupakan seseorang yang
berharga di dekatnya, ia sangat mengenali siapa sosok yang terbaring di depanya
sekarang. Di tangan kiri orang itu terdapat sebuah ikat rambut yang tampak
tidak asing baginya. Perlahan-lahan, orang itu menggerakan bibirnya tanpa
suara. Alisa dapat melihatnya dengan jelas dan mengerti apa yang orang itu
katakan,
“M - a – a -
f”.
Alisa gagal
menahan air matanya dan langsung menangis sambil berjalan mendekati orang itu.
Ibunya yang ada di belakang langsung memeluknya dengan erat. Alisa terus meraih
tanganya kedepan untuk meraih orang itu dan memanggilnya, namun semuanya sudah
terlambat. Garis hijau yang kian bergerak lemah kini telah bergerak lurus mengeluarkam
bunyi tak berhenti. Orang itu sudah menghembuskan napas terakhirnya. Suara
tangis Alisa terdengar seisi ruangan sampai ke lorong tempat Miss Vita berdiri.
Miss Vita yang bisa bisa menahan sedihnya di dalam genggaman tanganya.
***
“Kebakaran
terjadi di sebuah pabrik pakaian yang terletak di Distrik Industri bagian
barat. Di duga penyebab kebakaran tersebut adalah kesalahan fungsi mesin yang
menyebabkan ledakan berakibat penyebaran api keseluruh ruangan. Terdapat 9
orang yang cedera, 1 orang kritis dan 1 orang telah meninggal dunia. Untuk
informasi selanjutnya akan kami sajikan sesaat lagi”.
Miss Vita
mematikan Tv yang menyala di ruang tamu. Setelah itu ia pergi ruang atas,
membuka tirai jendela selebar-selebarnya lalu membangunkan Alisa. Langit di
luar tampak mendung, angin meniup pepohonan di luar dengan kencang. Alisa
bangun dari tempat tidurnya dan segera bersiap-siap untuk melakkukan aktivitas
harian seperti biasa.
Setelah
menghadiri pemakaman Ayahnya kemarin, Alisa tidak pernah lagi berbicara dengan
Ibunya. Beliau telah mengurung dirinya seharian di kamar. Miss Vita pun tidak
bisa berbuat apa-apa kepadanya. Seisi rumah terasa suram, di tambah cuaca yang
tampaknya akan membawa badai besar.
Hari ini
Alisa akan mempelajari tentang materi penggunaan dialog tag dan aksi. Dialog
tag adalah teknik penulisan dialog yang ditulis seiringan dengan tingkah laku
tokoh. Sedangkan dialog aksi adalah teknik penulisan dialog yang tidak
diiringin secara langsung olen aksi. Semua berjalan seperti biasanya sampai
malam tiba. Alisa kembali ketempat tidur, berharap dia bisa berbicara dengan
Ibunya lagi esok hari.
Keesokan
harinya
“Selamat
pagi, Alisa,” sambut seorang wanita berparas cantik dengan rambutnya yang
berwarna coklat gelap diikat kebelakang. Alisa terbangun dan melihat wanita itu
dengan samar-samar. Setelah ia mengusap matanya perlahan-lahan, akhirnya ia
bisa melihat dengan jelas.
“Mama!”
Alisa merasa
senang karena Ibunya telah kembali. Mereka kembali tertawa bersama layaknya
seorang Ibu dan Anak. Tidak ada yang terjadi di antara mereka berdua setelah
kepergian orang yang mereka kasihi. Bukan berarti mereka sudah melupakanya,
hanya saja mereka berdua pandai menyembunyikan perasaan mereka di balik tawa
bersama. Saat Ibunya terlihat sedih, Alisa selalu berusaha untuk menghiburnya
kembali. Apapun yang terjadi, Alisa tidak akan membiarkan Ibunya merasa sedih
lagi dan akan selalu membuatnya bahagia. Karena itulah yang ia sukai, senyuman
yang tidak tergantikan oleh siapapun.
5 bulan
telah berlalu
Alisa dan
Ibunya duduk di teras belakang rumah menyaksikan bintang-bintang di langit. Beristirahat
setelah melakukan berbagai macam kegiatan seharian penuh.
“Apa yang
kau inginkan untuk ulang tahunmu besok, Alisa?” Tanya pelan Ibunya.
Alisa
menggelengkan kepalanya, “Bisa bersama Mama setiap hari sudah cukup buatku,”
Alisa memejamkan matanya di dalam pelukan Ibunya.
“Ayolah,
pasti ada yang kau inginkan”.
“Enggak
kok…,”
“Alisaaa,”
“Baiklaah!”
Alisa menyerah, “Aku ingin mencicipi kue
buatan Mama lagi”.
“Eh? Bukanya
terakhir kali kau bilang kue buatan Mama terlalu kering?”
“Itu kan sudah lama sekali! Alisa Cuma mau….
Mencicipinya lagi…,” Alisa menundukan pandanganya sambil memainkan jari-jari
kecilnya.
Ibunya tersenyum,
“Baiklah kalau itu yang kau mau, Mama akan membuatnya lagi besok pagi”.
Alisa senang
mendengarnya.
Mereka pun
menghabiskan sisa waktu malamnya bersama sampai Alisa tertidur pulas.
***
Satu malam
telah berlalu
Alisa bangun
tanpa Ibu yang berada di sampingnya. Dengan mata yang masih mengantuk, ia langsumg
pergi mencarinya. Secara kebetulan, Alisa menemukan Ibunya di dapur sedang
bersama Miss Vita. Setelah melihat panci-panci yang tertumpuk dimana-mana,
Alisa pun mendendekati mereka berdua.
“Eh Alisa,
kamu sudah bangun ya,” sapa Ibunya. Setelah menyiapkan sesuatu dari balik
badanya, ia mempersembahkan sebuah kue krim putih dengan starwbery di atas
kepada Alisa.
“Tada!! Vanila Cake Butter Cream Strawbery buatan
spesial Mama!”.
Alisa
terkejut melihat potongan rapi yang benar-benar terlihat seperti kue. Terakhir
kali saat Ibunya membuat kue, bentuknya lebih mirip seperti kue kering yang
cocok dimakan bersama teh. Tapi kali ini bentuknya benar-benar cantik.
“Bagaimana?
Terlihat cantik bukan? Hehe, berkat bantuan dari Miss Vita, Mama mempelajari semua
buku tentang cara membuat kue dengan benar semalaman. Tidak kusangka hasilnya
benar-benar sangat memuaskan ya…,” ucap Ibunya dengan ekpresi puas dan
mempesona. Sedangkan Miss Vita hanya berdiri tersenyum di sampingya.
Alisa
mengambil sesendok garpu dan memotong bagian kecil dari kue tadi lalu
mencicipinya. Ibunya terlihat tegang saat menunggu reaksi Alisa yang masih
terus mengunyah kue di dalam mulut. Setelah menelanya, Alisa menaruh garpu dari
tangan kananya dan bersiap untuk memberikan komentar.
“Enak!~” Alisa memasang ekpresi puas.
Ibunya yang
sedari tadi menunggu akhirnya memeluk Alisa dengan senang dan mengangkatnya ke
atas, “YAY!”.
Meskipun
rasanya tidak seperti yang Alisa bayangkan, ia sangat bahagia karena Ibunya
sudah bersusah payah melakukan semua itu untuknya. Tidak peduli apapun yang
terjadi, selama bersama Ibunya dia akan terus bahagia.
“Maaf
mengganggu kesenangan kalian berdua, tapi sepertinya Nyonya lupa menaruh lilin
ulang tahunya di atas kue,” Miss Vita tersenyum.
“Eh? Yang
benar?!” Ibu Alisa terhenti sejenak memutar-mutar Alisa dan menyadari apa yang
dikatakan Miss Vita tadi. Ia kini menyesal karena telah menghancurkan momen
paling penting dalam perayaan ulang tahun Alisa. Alisa pun tertawa melihat
kelakuan Ibunya sendiri, dan mengatakan bahwa hal itu sama sekali tidak
penting.
“Selama ada
Mama ada disini, Alisa sudah senang
kok”. Alisa tersenyum.
Ibunya pun
ikut tersenyum, dan memeluk Alisa kembali dengan pelan.
“Terimakasih
Alisa, Mama juga sana sangat senang bisa bersamamu selama ini,” pelukan semakin
erat, “Tapi maaf ya, sepertinya Mama sudah tidak kuat lagi….”.
Alisa
merasakan pelukanya perlahan melemah. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh
Ibunya barusan.
“Eh? Apa
yang Mama bicarakan?”.
Sebelum
sempat menjawab pertanyaan Alisa, Ibunya sudah terjatuh lemah di depan pelukan
Alisa, Miss Vita segera berlari ke arah mereka berdua dan memanggil pelayan
yang lain. Alisa yang bingung hanya melihat dari kejauhan sementara Miss Vita
mencoba membuat Ibunya kembali sadar. Setelah pelayan lainya datang, mereka
langsung membawanya kembali ke kamar. Alisa mengikuti dari belakang mereka dan
menunggu di depan pintu. Ibunya telah pingsan dan sekarang berada di atas
tempat tidur tidak sadarkan diri.
“Psikosomatik”.
Itulah yang
diucapkan oleh dokter setempat. Psikosomatik adalah kondisi menurunya kesehatan
tubuh akibat rasa cemas dan stress yang berlebihan. Penyebabnya bisa terjadi
karena trauma atau perasaan emosional yang di pendam dengan paksa. Setelah
kepergian Ayah Alisa, Ibunya masih terus memikirkan hal itu tetapi ia selalu
menyembunyikanya karena khawatir akan Alisa. Kini ia sudah berada di kondisi
kritis dan tidak bisa menggerakan tubuhnya lagi.
Dokter
menyarankan untuk selalu memberinya makan teratur dan waktu istirahat. Selain
itu, dokter juga memberinya beberapa vitamin agar dapat meningkatkan nafsu makan.
Alisa hanya dapat melihat ibunya dari depan pintu setiap kali Miss Vita datang.
Beberapa
hari telah berlalu, Ibu Alisa tak kunjung sembuh sementara kondisi tubuhnya
semakin menurun. Miss Vita selalu memeriksa keadaanya setiap jam.
Terkadang
Alisa tertidur di lorong selagi menunggu kesembuhan Ibunya. Setiap hal itu
terjadi, Miss Vita selalu menggendong Alisa kembali ke tempat kamar.
Suatu hari setelah
Miss Vita sudah selesai memeriksa kondisi Ibunya di malam hari, Alisa
memberanikan dirinya untuk masuk kedalam.
Sesampai di
sana, ia memegang tangan Ibunya yang dingin dan melihatnya dengan khawatir.
“Ma...?”
Napas-nya
terdengar terengap-engap. Perlahan-lahan Ibunya membuka mata melihat Alisa yang
berdiri di samping tempat tidur. Ia menatapnya dengan pelan dan berusaha untuk
tersenyum.
“Ada apa
Alisa…?”
Alisa merasa
tertekan karena melihat Ibunya yang berusaha untuk berbicara.
“Apa ada
sesuatu yang bisa Alisa lakukan untuk Mama?”
.
Ibunya
tersenyum, “Kau sudah tumbuh besar menjadi anak yang baik ya, Alisa. Mama
sangat bangga kepadamu,” lanjutnya sambil mengelus kepala Alisa.
“Mama akan
sembuh kok, jadi Alisa tidak usah khawatir ya? Mama cuma butuh istirahat
sebentar…”.
Setelah itu,
Alisa menggeser sebuah bangku kecil ke samping tempat tidur. Ia meletakkan kepalanya di atas kasur sambil
memegang tangan Ibunya. Alisa merasa khawatir akan terjadi sesuatu malam ini,
jadi ia memutuskan untuk menemani Ibunya.
Sang Ibu
tidak mengucapkan apa-apa lagi, mereka berdua hanya diam sesaat seiring sinar
rembulan masuk menerangi ruangan mereka
melalui jendela.
.
“Alisa….”
“Ya, mama?”
“Kalau kamu
sudah besar nanti, ingin menjadi apa…?”.
“Aku ingin menjadi
seorang model cantik yang terkenal seperti Mama”.
“Hahaha…
Tapi kan Mama bukan model?”.
“Tentu saja
Mama model, karena aku penggemar nomor 1 Mama. Hehe”.
“Ehh?....”
.
“Alisa….”
“Ya, Mama?”
“Apa yang
kamu lakukan nanti…, kalau Mama tidak ada?....”
“…”
“…”
.
“Alisa….”
“Ya, Mama?”
“Bisakah Mama
meminta 1 permintaan lagi?”
“Boleh…”
“Mama ingin
kamu selalu tersenyum…, dimanapun kamu berada…. Karena kamu sudah besar…. Kamu
boleh memakan kue manis sepuasnya, asalkan jangan lupa gosok gigi 3 kali sehari
ya?.... Mama ingin kamu tumbuh besar seperti yang kamu mau…. Jangan lupa juga
selalu mengingat orang-orang yang ada di sekitarmu…, karena mereka lah yang
akan menghiasi hari-harimu nanti….”.
“Ma…, itu
lebih dari 1 permintaan”.
.
“Alisa….,”
“Ya,
Mama?....”
.
.
.
.
“Ma?...”
.
.
.
“Alisa janji
akan melakukanya”.
.
“…”
.
“…..”
.
“Jangan pergi.…”.
Alisa
memegang erat tangan Ibunya yang telah pucat, berusaha untuk menahan air mata
yang terus mengalir di pipinya. Karena dia sudah berjanji, bahwa ia akan terus
tersenyum apapun yang akan terjadi. Tetapi di malam itu, ia benar-benar tidak
bisa menahanya dan mengeluarkan semua kesedihanya. Miss Vita yang mendengar
langsung berlari ke lantai atas memeriksa mereka berdua, pelayan yang lain pun
ikut mendatangi mereka. Alisa masih terus menangis dan memeluk Ibunya dari
dekat, berharap ia akan membuka matanya kembali. Miss Vita menyuruh pelayan
lain untuk segera memanggil dokter. Para penjaga pun turut datang melihat
mereka berdua. Malam itu dipenuhi dengan tangisan dan air mata. Mereka semua
telah berpisah dengan orang yang mereka semua cintai. Tidak ada yang bisa
menghentikan tangis Alisa pada malam itu, ia terus menangis sambil terus
menerus memanggil Ayah dan Ibunya.
Tetapi apa yang sudah pergi tidak dapat kembali lagi, keduanya telah pergi
untuk selama-lamanya.
***
Keesokan
harinya, pemakaman pun di lakukan di tempat yang sama seperti sebelumnya. Hujan
deras turun di atas semua orang yang sedang berduka di depan dua makam
seseorang yang sudah menjadi penyelamat mereka, kini jejak yang tersisa
hanyalah Alisa seorang diri. Setelah menangis semalaman selepas kepergian orang
yang sangat ia cintai, Alisa sudah bersikap tenang seperti biasa lagi. Dengan
Miss Vita yang berada di sampingya, mereka semua mengucapkan salam untuk
terakhir kalinya dengan seuntai bunga berwarna putih. Setelah itu mereka pulang
ke tempat kediaman seperti biasanya.
“Permisi…”.
Seorang
gadis kecil mengenakan jas hujan berwarna kuning berhenti di depan Alisa. Muka
gadis itu tidak terlihat jelas, tetapi Alisa dapat melihat bekas luka bakar
besar di wajahnya.
“Anu…, ini,”
Gadis itu memberikan sebuah buku bersampul hitam kepada Alisa, “Ini adalah buku
yang ku temukan di puing-puing pabrik 5 tahun yang lalu. Aku rasa ini milik
Ayahmu”.
Alisa
terkejut, ia ingat bahwa ada satu orang yang selamat dari kebakaran itu dengan
kondisi kritis.
“Ayahmu
adalah seorang penyelamat, sebelum api menyebar ke semua ruangan, ia memilih
untuk menyelamatkanku terlebih dahulu bersama orang-orang lainya. Ia adalah
seorang pahlawan, beliau adalah orang yang sangat baik bagi kami. Aku…,” gadis
itu menggelengkan kepala dengan gemetar, “M-maafkan kami…, k-karena tidak-”
sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Alisa menepuk pundaknya dan
menyamakan tingginya dengan gadis itu.
“Aku tahu
kok, dia juga sudah menjadi seorang pahlawan untuk-ku”.
Alisa
tersenyum, gadis kecil itu mulai menangis tanpa menyelesaikan kalimatnya.
Kemudian Alisa menyuruh salah satu penjaga untuk mengantarnya kembali pulang. Setelah
melihat sejenak buku yang ia pegang, ia kembali berjalan bersama Miss Vita dan
yang lain.
***
Malam telah
tiba, Alisa masuk kembali ke dalam kamarnya. Buku bersampul hitam itu dia
letakkan kedalam laci, lalu duduk di depan cermin rias. Alisa melepaskan ikatan
rambut miliknya, lalu mengambil sebuah sisir untuk meluruskan tiap helai rambut
sebelum ia tidur. Suasana hening memenuhi seisi ruangan, Alisa terus meluruskan
rambutnya tanpa melihat kedepan cermin sedikitpun. Kerpergian 2 orang
terdekatnya masih menghantui Alisa. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Satu
– dua jam pun telah berlalu, Alisa masih diam di depan cermin rias hanya dengan
penerangan lilin yang kecil. Setelah beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk
pintu kamar Alisa dari luar.
“Silahkan,”
sahut Alisa.
Orang itu
adalah Miss Vita. Ia merasa khawatir akan Alisa dan memutuskan untuk pergi
memeriksa. Setelah Alisa membiarkanya masuk, Miss Vita berdiri di belakang
Alisa.
“Boleh aku
membantu Nona?” pinta Miss Vita.
Alisa
berhenti, kini Miss Vita yang menyisir belakang rambutnya.
Tidak ada
yang mengucapkan satu kata pun, mereka hanya di naungi oleh sepinya malam hari.
Hujan belum kunjung henti sejak tadi pagi, suara rintiknya terdengar menggema
dari luar.
“Sebelum
saya bertemu dengan Nona, saya hanyalah seorang gadis kecil yang tidak tahu
harus berbuat apa,” Miss Vita memulai pembicaraan.
“Saya tinggal
di sebuah panti asuhan yang terletak di tengah kota, saya bertemu dengan banyak
sekali pengasuh yang baik hati disana. Mereka merawat saya bersama anak-anak
lainya dengan penuh kasih sayang, meskipun mereka tidak punya hubungan darah
dengan kami sama sekali. Tanpa mereka, kami tidak bisa tumbuh dengan baik
seperti sekarang.
Pada saat
itu saya sudah mendapatkan cita-cita pertama saya, saya ingin menjadi seperti
mereka. Karena mereka telah mengajarkan sesuatu yang penting kepada kami”.
Alisa
mendengarnya dengan saksama, tanpa mengkat pandanganya sedikitpun.
“Apa
itu?...,” Tanya Alisa.
“Bahwa kita
semua harus saling berbagi dan mengasihi dengan satu sama lain,” jawab Miss
Vita. Setelah selesai menyisir, ia merangkul kedua tanganya dengan pelan di
pundak Alisa dari belakang.
“Seiring
waktu berjalan, saya akhirnya bertemu dengan Nyonya Lisa, Ibumu.
Ia sangat
baik sekali kepada kami dan para perawat, beliau juga selalu memotivasi dan
membantu kami jika ada sesuatu yang terjadi.
Suatu hari
kemudian, kami mendepatkan kabar gembira bahwa beliau telah melahirkan seorang
anak perempuan yang cantik. Itulah dirimu, Alisa.
Kami semua
ikut senang mendengarnya. pada saat itu juga kami bertemu dengan Ayahmu .
Beliau
adalah orang yang baik hati dan selalu tersenyum. Ia memberitahu kami bahwa
kami semua telah di ajak untuk pindah ke rumah mereka untuk bekerja disana.
Tentu saja
dengan senang kami menyetujuinya, karena kami bisa bekerja untuk orang yang
telah menjadi idola kami.
Beberapa
dari kami dikirim ke Distrik Perindustrian untuk bekerja bersama Ayahmu, sedangkan
sebagian lainya bertugas disini untuk melayani Ibumu. Saat itu Ibumu telah
memilih saya untuk menjadi kepala pelayan.
Setiap hari
kami bertemu dengan beliau dan juga dengan Nona untuk pertama kalinya. Nona masih
senang menggigit jari-jari kecil Nona saat itu,” Miss Vita tertawa kecil, tak
lain Alisa juga ikut tersenyum.
“Waktu terus
berlalu, Ibumu mulai sibuk bekerja bersama Ayahmu di Distrik Industri. Ia
memberiku tanggung jawab yang besar sampai saya sendiri tidak percaya saat itu,
yaitu menjaga Nona.
Saya pikir
Nona akan terus menangis jika di tinggal sendirian, tetapi itu tidak pernah
terjadi. Nona selalu bersikap tenang dan tersenyum kepada orang lain meskipun
baru bertemu dengan mereka. Nona mengingatkan saya kepada orang-orang yang
telah membesarkan saya sebelumnya.
Tetapi bukan
berarti mengurus Nona hal yang mudah, terutama soal cemilan yang harus saya
jaga setiap malam”.
Alisa tertawa
mendengar keluhan Miss Vita.
“Sampai saat
ini, saya tidak menyesali waktu yang saya habiskan bersama Nona. Semua orang
disini juga merasakan hal yang sama seperti Saya. Kami bersyukur bisa bersama
anda selama ini.
Karena itu,
kami akan selalu bersama Nona sampai kapan pun, apa pun yang terjadi”.
Miss Vita menyampaikan
semua perasaan orang yang berada disana kepada Alisa. Awan hitam yang sedari
tadi menghalangi bulan di malam ini telah lewat. Rembulan kini bersinar lebih
terang dari sebelumnya.
Alisa
kemudian memegang tangan Miss Vita seraya berkata, “Aku juga bersyukur bisa
bersama kalian selama ini…. Terimakasih”.
Keesokan
paginya Alisa terbangun dari senderan Miss Vita di tempat tidur. Ini adalah
pertama kalinya ia bangun lebih awal dari Miss Vita. Ia berdiri dan melihat
keluar jendela yang tidak tertutup semalam. Perlahan-lahan Miss Vita pun ikut bangun.
“Bibi,
kenapa semua orang berkumpul di luar?” Tanya Alisa kepada Miss Vita. Alisa
langsung keluar kamar menuju barisan orang yang berada di depan pintu masuk.
Miss Vita yang bingung juga mengikutinya dari belakang.
Mereka
berdua berdiri di depan barisan para pelayan, penjaga, dan pekerja yang selama
ini bekerja untuk keluarga Alisa. Setelah beberapa saat, seorang pelayan maju.
“Nona, kami
sudah mendengar jawaban dari Nona semalam. Kami sudah memutuskan apa yang harus
kami lakukan”.
Pelayan itu
menunduk kebawah. Alisa yang tidak tahu apa-apa hanya berdiri kebingungan di
depan mereka semua. “Eh?”
“Kami semua
sudah bekerja melayani Nona selalama 10 tahun terakhir. Nona sudah menjadi
seperti keluarga untuk kami, maka dari itu, izinkanlah kami untuk melayani Nona
sampai suatu hari nanti Nona menyuruh kami untuk pergi,” Pelayan itu menunduk
kebawah bersama dengan orang-orang lain di belakangnya. Mereka telah
mengabdikan diri mereka semua kepada Alisa agar terus melayaninya dari awal
sampai akhir. Alisa yang begitu bingung hanya bisa melihat semua orang menunduk
di depanya. Setelah Alisa mengerti dengan apa yang terjadi, ia tersenyum tenang
di wajahnya. Karena ia masih memiliki orang-orang yang peduli kepada dirinya,
rasa kekosongan di dalam hatinya telah menghilang. Ia pun berdiri kembali dengan
tenang, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskanya.
“Ayolah,
kalian tahu aku tidak tinggal di tempat ini sendirian bukan?” Alisa Tersenyum
kembali.
“Tidak perlu
seformal itu, lagipula kalian sudah menjadi keluarga ku sejak lama. Tidak
mungkin aku meninggalkan kalian,” Alisa menjulurkan tanganya kepada sang
pelayan. Mereka semua kembali berdiri dan menyeru kepada Alisa. Salah seorang
pelayan memeluknya dengan terharu. Alisa juga sama senangnya dengan mereka
semua.
Memang
benar, kedua orang yang dicintainya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Akan
tetapi, ia masih memilik orang-orang yang selalu menjaganya. Mereka semua telah
menjadi bagian dari keluarga Alisa.
“Tapi kalian
tahu, aku tidak bisa melakukan ini sendiri. Apa yang bisa di lakukan gadis
berusai 10 tahun untuk kalian semua?,” kata Alisa dengan khawatir.
“Siapa
bilang kamu sendiri?” ucap seorang pria tua yang mengenakan jas rapi.
“Kakek?!”
Alisa berlari kearah pria tua yang merupakan Kakeknya. Kakeknya adalah pemilik
saham tambang di Distrik Industri. Setelah mendengar berita tentang insiden
kebakaran terhadap perusahaan ayah Alisa, ia mulai mengurus dan membangun ulang
kembali tempat itu.
“Maaf ya
Kakek baru bisa mengunjungi mu, Alisa,”
Kakeknya mengangkat Alisa dalam pelukanya.
Sambil
menangis di pelukan sang kakek, ia bercerita tentang semua yang sudah ia alami
selama ini.
“Aku kira
Kakek juga sudah mati,” Alisa terhisak.
Kakeknya
agak terkejut mendengar itu, seakan-akan ia seperti terkena serangan jantung.
“Sudah…,
sudah…. Kamu sudah tidak perlu memikirkanya lagi, ok? Kakek akan tinggal
bersama mu sekarang,” Ujar sang kakek sambil membawa masuk Alisa masuk kedalam
rumah. Cepat atau lamabat, keluarga mereka akan pulih menjadi seperti
sebelumnya lagi.
2 Tahun
kemudian.
Alisa telah
tumbuh besar menjadi wanita yang cantik. Rambutnya yang berwarna pirang cokelat
tipis terikat di belakang dengan tambahan poni didepan, membuatnya tampak
seperti seorang model.
Suatu hari
ia dan Miss Vita pergi ke rumah panti asuhan yang terletak di tengah kota,
tempat Miss Vita di besarkan waktu kecil. Alisa sangat terkenal sekali di
kalangan anak-anak di sana dari berbagai umur. Ia juga bertemu dengan seorang
anak kecil yang jatuh dengan ceroboh saat itu, Alisa menghampiri dan
mengulurkan tanganya kepada anak itu sebelum menangis.
“Sini biar
kakak bantu,” pinta Alisa dengan ramah. Anak itu mrngusap air matanya yang
hendak keluar dan berterimakasih kepada Alisa. Setelah itu mereka semua bermain
bersama.
Ketika Alisa
melihat kumpulan bingkai foto yang di pajang di dinding, ia berhasil menemukan
Miss Vita berada di salah satu fotonya. Tak hanya itu, ia juga melihat sesuatu
yang janggal. Bahwa di dalamnya juga terdapat foto Ibu dan Ayahnya bersama
mereka, Alisa terkejut dan langsung menanyakanya. Miss Vita berkata bahwa Ibu
dan Ayahnya lah yang telah membangun panti asuhan mereka. Berkat mereka berdua,
anak-anak yang kehilangan keluarganya seperti Miss Vita dulu jadi memiliki
tempat tinggal sekarang. Itulah mengapa mereka sangat berterimakasih kepada
keluarga Alisa.
Setelah
mendengar hal itu, Alisa kembali termotivasi. Ia berjanji akan meneruskan semua
peninggalan orang tuanya.
Saat umurnya
sudah menginjak 14 tahun, ia memilih hidup mandiri dengan bekerja di sebuah
kafe yang sering ia kunjungi waktu kecil. Tidak lama untuk membuat karirnya
sukses, berkat kecantikanya banyak orang yang mendatangi kafe itu setiap hari
hanya untuk melihatnya. Manager kafe yang kewalahan pun terpaksa untuk menambah
karyawan lainya untuk membantu.
Hari demi
hari telah berlalu, Alisa pulang kerumah setelah bekerja seharian di kafe. Ia
merebahkan badanya di atas tempat tidur sebelum mengganti pakaian. Ia teringat
akan dirinya waktu kecil, ia bisa bermalas-malasan setiap hari di dalam rumah
meski masih dalam pengawasan Miss Vita. Ia juga masih mengingat pelukan hangat
dari Ibunya waktu itu, dan juga keramaian Ayahnya yang membuat semuanya menjadi
meriah, sampai mereka berdua pergi….
Sesaat ia
teringat sebuah buku yang diberikan kepadanya saat pemakaman dulu. Ia belum
pernah membukanya sejak saat itu. Ia memeriksa setiap tempat di kamarnya,
berharap buku itu belum hilang di tumpukan sampah. Ayahnya pasti benar-benar
marah jika hal itu terjadi pikirnya.
Setelah
membuka laci di meja rias, ia menemukan buku bersampul hitam yang sudah
berdebu. Alisa meniup sedikit debu yang di atasnya dan mulai membaca.
Pada halaman
pertama, air matanya menetes tanpa ia sadari. Itu adalah pesan-pesan dari kedua
orangtuanya yang belum pernah tersampaikan kepadanya. Beberapa dari tulisan
adalah milik Ibunya, sebagian lain adalah Ayahnya. Ia bisa mengenali tulisan
mereka dari semua surat balasan yang dikirim kedua orang tuanya waktu kecil.
Selain tulisan-tulisan pendek, disana juga terdapat gambaran-gambaran ibunya
yang mengatakan,
“Alisa
dengan kue manisnya!”.
“Kucing
pembawa kue!”.
“Malaikat
kecil kami yang sangat berharga”.
Alisa
tertawa geli saat membacanya tanpa menghiraukan air mata yang terus mengalir.
Meskipun hanya dari sebuah buku, ia bisa merasakan kembali kehangatan dari
kedua orangnya. Seakan-akan mereka ada di sampingnya.
Setelah
membaca sampai halaman terakhir, Alisa kembali tenang sambil mengusap air
matanya. Saat ia hendak menutup kembali buku itu, sebuah kertas kecil keluar
dari dalam sampul buku. Didalamnya ada sebuah kunci kecil terbuat dari besi.
Alisa belum pernah melihat kunci itu berada di rumah sebelumnya. Selagi hari mulai
larut malam, ia sudah merasa sangat mengantuk dan menyimpan rasa penasaranya
untuk besok. Ia meletakkan kembali buku dan kunci yang baru ia temukan tadi
kedalam laci.
Keesokan
sore harinya, Alisa kembali pulang setelah bekerja seharian di kafe kota. Ia
ingat dengan kunci yang baru ia temukan semalam. Dari bentuknya yang kecil,
tidak mungkin kunci itu untuk sebuah pintu ruangan. Alisa menanyakanya kepada
Miss Vita, namun ia juga tidak pernah melihat pola kunci seperti itu.
“Mungkin itu
milik Nyonya, ia terkadang suka menyimpan benda-benda unik seperti itu”.
Miss Vita
menyarankan Alisa untuk memeriksa kamar Ibunya sendiri. Alisa pun langsung
menuju ke lantai atas. Setengah jam sudah berlalu, tetapi Alisa tidak menemukan
apa-apa di dalam kamar. Ia merebahkan tubuhnya sebentar di atas tempat tidur
kanopi, ia bisa merasakan sesuatu yang nostalgia dengan lembutnya permukaan
kasur.
Disamping
tempat tidurnya, ia melihat bingkai foto yang di ambil saat usianya masih
berumur 3 tahun. Mereka bertiga bersama Miss Vita berfoto bersama di teras
belakang rumah.
Saat ia
menghadap ke atas, ia melihat sebuah celah kecil di langit-langit tempat tidur.
Ia bangun dan mencoba untuk menggesernya, di dalamnya terdapat sebuah buku yang
memiliki segel seperti kunci. Alisa pun mencoba kunci kecil yang ada di tangan
kananya dan buku itupun terbuka.
Alisa
kembali duduk di atas tempat tidur lalu mulai membaca, isi buku itu berbeda
dari buku harian yang ia baca semalam. Lembar demi lembar di penuhi oleh
susunan struktur-struktur yang tidak dimengerti oleh Alisa. Alisa terus
membolak-balik halaman selanjutnya sampai ia melihat sebuah gambaran sketsa
sebuah kota yang di kelilingi oleh dinding. Tepat di luar dinding itu terdapat
4 Distrik yang dikenal sekarang sebagai Distrik Pertanian, Distrik Militer,
Distrik Idustri, dan yang terakhir Distrik Pemukiman. Buku itu memuat semua
informasi yang terdapat di keempat distrik. Pada halaman selanjutnya, Alisa
melihat informasi khusus yang ditunjukan untuk Distrik Pemerintahan, yaitu
distrik yang berada di dalam Dinding.
“Seperti
yang kita ketahui, kita tinggal di dalam sebuah dinding yang melingkar saling
terhubung satu sama lain. Berkat izin dari pemimpin di Distrik Pemerintahan,
semua orang diluar dinding bisa tinggal
di tempat sekarang ini. Dengan bahwasan warga yang berasal dari luar dinding di
tandai sebagai infected karena virus
yang berada di tubuh merkea semua. Tapi bagaimana dengan biaya pembangunan di
tempat ini? Apa ada seseorang di dalam sana yang memberikan bantuan? Atau ini
adalah hasil kerja keras murni dari para infected
yang berusaha untuk bertahan hidup dari serangan makhluk di luar sana selama
bertahin-tahun? Mengapa kita tidak diizinkan untuk masuk kedalam dinding mereka
sedangkan mereka tetap menerima masukan dari luar dinding? Apa di dalam tubuh
kami benar-benar terdapat sebuah virus? Mengapa mereka tidak lebih waspada
dengan adanya kami yang mengelilingi mereka, apa tujuan sebenarnya tempat ini
dibuat?
Setidaknya
itulah pertanyaan yang belum bisa kujawab sampai sekarang. Satu-satunya yang
mengetahui hal itu adalah seseorang yang
bekerja di kedua sisi dinding ini. Mungkin aku bisa bertemu denganya suatu hari
nanti.
Aku tidak
pernah menduga akan menjadi seorang Ibu dari anak yang cantik, hahaha. Mencari informasi ini tidak semudah
seperti sebelumnya lagi dengan tanggung jawab yang baru. Namun aku sama sekali
tidak menyesalinya, mungkin aku harus memutuskan mencari semua jawaban dari
pertanyaan itu sekarang.
Sekian
catatan saya hari ini. Semoga seseorang akan menjawab semua pertanyaan ini
suatu hari nanti. Salam, Lisa Fermila”.
Alisa membaca
catatan terakhir Ibunya di halaman terakhir sebelum halaman kosong selanjutnya.
Ibunya adalah seorang jurnalis yang mencari tahu tentang kebenaran didalam
dinding. Ia bersama Ayah Alisa mencari tahu tentang hal itu bersama-sama,
tetapi mereka selalu gagal mendapatkan jawabanya. Alisa mendapatkan selembar
kertas kecil jatuh dari halaman lainya. Kertas itu tertulis,
“Hai, Alisa.
Aku tahu kau pasti akan menemukan buku ini suatu hari nanti. Jika kau membaca
buku ini setelah kita sudah berpisah, aku hanya ingin memberi tahumu satu hal
penting. Ibu dan Ayah melakukan hal ini hanya untuk mencari rasa ingin tahu
kami dan menjawab semua pertanyaan yang ada. Kamu tidak perlu mencari
jawabanya, cukup menjadi apa yang sudah kau cita-citakan ok! Ibu dan Ayah sangat
bangga kepadamu, Alisa. Meskipun kami berdua tidak bisa melihat mu besar
bersama kami lagi, tetapi kami yakin kamu pasti bisa melakukan yang terbaik!
Jangan lupa selalu berbuat kebaikan ya, dan juga selalu tersenyumlah di depan
orang lain! Karena kesedihan itu adalah hal yang buruk!
Itu saja
pesan dari kami berdua, kami harap kamu bisa terus bahagia disana.
Salam dengan
penuh kasih sayang, Ibu & Ayah”.
.
Suara
langkah berjalan terdengar dari luar kamar. Itu adalah Miss Vita.
“Bagaimana?
Apa Nona menemukanya?” tanya-nya.
Alisa
mengangguk menjawab pertanyaan Miss Vita. Ia tersenyum berdiri di depan
jendela, melihat matahari senja yang hendak tenggelam dari balik dinding besar
diluar sana.
“Aku sudah
menemukanya kok”.
Alisa
berjalan keluar kamar dengan gembira, Miss Vita yang berdiri di samping pintu
keherenan melihatnya. Setelah itu ia melangkah masuk untuk merapikan kembali
tempat tidur di dalam. Ia juga memperbaiki posisi bingkai foto yang ada di
samping tempat tidur setelah melihatnya sebentar.
“Anak kalian
telah tumbuh dengan baik Nyonya Lisa, Tuan Fordo”.
Rasa
penasaran Alisa semakin tumbuh setiap hari. Ia terus terpikirkan oleh buku yang
sudah di tulis Ibunya. Sebenarnya apa yang ada di balik dinding itu? Bagaimana
keadaan orang-orang disana? Apa yang sudah terjadi sebelum dinding-dinding ini
di bangun? Alisa sering melamun saat sedang bekerja di kafe memikirkan semua
hal itu. Sedikit demi sedikit, ia mulai mencari semua informasi mengenai
Distrik itu. Saat hari libur, ia pergi membaca buku di dalam perpustakaan
rumahnya, atau pergi ke panti asuhan untuk mencari kabar terbaru disana.
Ia tidak
sengaja mendengar sebuah percakapan pelanggan mengenai pendaftaran tahunan
Distrik Militer. Alisa menanyakan hal itu ke pada managernya
“Militer?
Aku rasa itu orang-orang yang bertugas untuk menjaga keamanan disini dan pergi
ke dunia luar mempertaruhkan nyawa mereka untuk mencari informasi”.
Alisa
kemudian menanyakan tentang apa yang ada di dalam dinding.
“Aku tidak
tahu apa-apa mengenai itu, tetapi aku dengar beberapa orang didalam Distrik
Militer bisa mendapatkan akses untuk ke dalam sana”.
Perlahan-lahan
secara pasti Alisa mendapatkan jawaban. Berdasarkan informasi yang ia dapat,
Distrik Militer selalu membuka perekrutan setiap tahunya bagi yang berminat dan
lolos dalam ujian tes di sana. Ia sering mendengar keluhan costumer pelangganya
yang mengeluh karena gagal dalam ujian tes. Berkat kepribadianya yang baik dan
cantik, dengan mudah ia bisa mendapatkan semua informasi mengenai ujian tes
itu.
Ia mulai
mempelajari tentang selak beluk Divisi Militer dengan apa yang mereka lakukan,
apa tujuan mereka, dan bagaimana Divisi tersebut di bentuk. Ia mencari semua
itu hanya untuk menjawab rasa ke ingin tahuanya, persis seperti kedua orang
tuanya.
Disuatu
malam, ia terpikirkan sesuatu.
“Bagaimana
jika aku menjadi salah satu dari mereka ya?”
***
Seiring
tahun berlalu, Alisa telah memikirkan akan menjadi seperti apa dia kedepanya.
Ia telah memutuskan untuk mendaftar menjadi satuan Divisi Militer, hal itu
dilakukanya untuk semua pertanyaan Ibunya yang belum terjawab sampai sekarang.
Dengan bergabung dengan Divisi tersebut, ia bisa mendapatkan kesempatan untuk
masuk ke dalam dinding, sesederhana itulah Alisa memikirkanya.
Saat ia
sudah siap, ia memberitahu Miss Vita tentang tujuanya.
“Eh? Bibi
tidak marah?” tanya Alisa.
“Kenapa? Aku
tidak mengerti kenapa Nona mengira saya akan begitu”
“Ya…, aku
kira Bibi akan mencegahku. Bibi tahu sendiri bukan, bekerja disana tidaklah
semudah seperti menyajikan kopi untuk pelanggan….”. Alisa menghentikan ucapanya
dengan ekpresi sedikit khawatir. Lah kenapa malah Alisa yang khawatir?
“Bukanya itu
langkah yang bagus, Nona sudah memiliki tujuan Nona sendiri sekarang. Saya juga
yakin Nona sudah memikirkan semuanya sebelum memilih pergi kesana,” jelas Miss
Vita meyakinkan Alisa.
Alisa
mendapatkan kepercayaanya kembali setelah mendengarnya. Ia memeluk Miss Vita
dan berterimakasih karena telah meyakinkanya kembali.
“Terimakasih,
Bi Vita”. Untuk pertama kalinya Alisa menyebut namanya. Miss Vita pun tersenyum
membalas pelukan Alisa.
Alisa telah
mempelajari beberapa hal mengenai Divisi Militer dan semua informasi yang ia
dapatkan mengenai tes ujian tersebut. Pendaftaran akan dibuka pada akhir tahun,
yang mana sekitar 5 bulan lagi dari sekarang. Karena waktunya yang mulai padat
dengan pekerjaanya, sang manager mengizinkanya untuk memakai kamar yang ada di
kafe agar Alisa dapat bermalam disana. Dengan senang hati pun Alisa menerima
tawaranya dan tinggal di sana untuk sementara waktu setelah meminta izin kepada
Miss Vita.
Pelanggan
selalu datang setiap hari, kafe itu menjadi lebih terkenal bukan hanya karena
suasana yang Estetik tetapi mereka
juga tertarik oleh kecantikan Alisa. Bahkan dari mereka rela hanya memesan
segelas kopi hanya untuk melihatnya, dengan begitu Alisa dapat memanfaatkan
suasana tersebut untuk peluang bisnis dengan menawarkan berbagai makanan ringan
kepada mereka.
Hari pendaftaran
sudah tersisa 7 hari lagi. Pada sisa waktu itu, Alisa lebih banyak menghabiskan
waktunya lagi untuk terus belajar dan belajar selepas bekerja. Ia juga membaca
buku catatanya kembali jika kafe sedang sepi.
Kring! Bunyi
bel pintu berbunyi seiring seorang pria mendorongnya dari luar. Alisa langsung
menutup catatanya dan berdiri sigap untuk menyambut pelangganya.
“Selamat datang!”
sambut Alisa sambil tersenyum.
“Eh? I-iya,
anu…,” pria itu seketika terlihat bingung melihat Alisa. Ini pertama kalinya
Alisa bertemu dengan pelanggan seperti itu.
“Tentang
lowongan pekerjaan di depan, apa aku bisa bekerja disini?” Tanya-nya.
Alisa ingat
bahwa manajernya masih mencari seorang staff pelayan tambahan, ia pun pergi
keruang belakang untuk menanyakan hal itu kepada managernya. Mengingat salah
satu pelayan yang sudah lama bekerja disitu sering sakit, Alisa mendapatkan
rekan kerja barunya sekarang.
***
Hari
pendaftaran telah tiba , Alisa pergi berangkat ke Distrik Militer pada saat itu
juga. Kira-kira butuh 3 jam perjalanan menuju kesana dengan transportasi umum.
Alisa berjalan di tengah keramaian orang-orang yang juga ikut mendaftar, ia tidak
menyangka ada sebanyak itu. Setelah mengambil formulir dan mendapatkan nomor
urut dari pos terdekat, Alisa menunggu sampai giliran tiba.
Malam telah
tiba, Alisa beranjak turun dari kereta kuda yang ia naiki.
“Hari ini
melelahkan sekali…. Secangkir teh hangat mungkin akan membantu”
Alisa segera
masuk kedalam kafe, melihat sang manager yang sedang merapikan bahan-bahan di belakang meja penerima tamu.
“Selamat
datang kembali” sambut sang manager, “Bagaimana hasilnya?”.
Alisa
meletakan tasnya di atas meja dan segera mengambil cangkir putih favoritnya
untuk membuat teh.
“Aku tidak
tahu, hasilnya akan dikirim sekitar 2-3 hari dari sekarang. Aku tidak menyangka
mengantri seharian penuh juga bisa melelahkan…,” Alisa mengaduk teh yang kian
berubah warna menjadi kemerahan, lalu duduk di salah satu kursi yang
bersampingan dengan jendela.
“Kenapa kau
tidak mengambil cuti saja untuk besok? Kau perlu istirahat yang cukup sampai
hasilnya datang nanti,” saran sang manager.
“Tapi siapa
yang akan mengurus kafe nanti?”
“Tenang,
pria magang yang datang kemari itu pasti bisa mengatasinya”.
“Hm,
baiklah! Aku juga penasaran bagaimana keadaan orang-orang di rumahku setelah
sekian lama tidak bertemu mereka,” Alisa mulai mengangkat cangkir dan meminum
teh manisnya dengan tenang.
.
.
.
“Aku lupa
menambahkan gula…”.
***
Keesokan harinya
Alisa pulang kerumah. Di depan pintu, ia disambut kembali oleh Miss Vita.
“Selamat
datang kembali, Nona Alisa”.
Mereka
berdua saling bertukar cerita seharian. Kakeknya yang mendengar dari Miss Vita
bahwa Alisa mendaftar menjadi satuan militer datang menjenguknya. Kakeknya
khawatir akan terjadi sesuatu kepadanya, tetapi Alisa terus meyakinkan bahwa
dia akan baik-baik saja. Dia tidak akan menyia-nyiakan waktu yang telah ia
habiskan selama ini untuk belajar. Kakeknya pun tidak bisa berbuat apa-apa
dengan keputusan kuat Alisa, ia berpesan agar Alisa selalu berhati-hati
dimanapun ia berada. Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama semalaman.
Saat pagi
telah tiba, Miss Vita membangunkan Alisa di kamarnya dengan sebuah surat
bersampul coklat di tangan. Surat itu berisi tentang informasi kelulusan
pendaftaran militer 2 hari yang lalu. Alisa sangat senang saat membacanya, Miss
Vita juga ikut mengucapkan selamat kepada Alisa. Dalam rangka seleksi selanjutnya,
ia diharuskan untuk pindah ke dalam Asrama yang berada di Distrik Militer
besok. Ia membawa segala keperluanya di dalam koper dengan bantuan Miss Vita
pagi hari itu. Alisa akan berangkat mulai besok pagi dari tempat kerjanya, jadi
dia akan kembali ke sana hari ini.
Alisa
berpamitan untuk terakhir kalinya dengan Miss Vita dan 4 orang pelayan lainya.
Ia merasa sedih kali ini karena akan berpisah jauh dengan mereka semua untuk
sementara waktu.
“Sampaikan
salamku kepada Kakek ya,” titip pesan Alisa kepada Miss Vita. Kakeknya sudah
pergi bekerja sebelum matahari naik. Dia benar-benar orang yang sibuk.
Miss Vita
pun mengangguk, “Kami semua akan selalu menunggu Nona disini, kembalilah kapan
pun saat Nona merasa lelah”.
Mereka
berdua tersenyum selagi saling berhadapan. Alisa mulai membalikkan badanya dan
berjalan menuju gerbang rumah. Ia juga berpamitan kepada semua orang yang
bekerja disana saat di jalan. Alisa akan benar-benar hidup lebih mandiri mulai
sekarang.
Alisa kembali
ke kafe dan bekerja seperti biasanya untuk terakhir kali. Ini adalah hari
terakhir ia berada di Distrik Pemukiman. Setelah malam tiba, Alisa duduk di
tempat seperti biasa sambil menikmati secangkir kopi susu panas sebelum tidur.
“Apa kau yakin akan pergi? Kau bisa
tetap bekerja disini jika kau berubah pikiran,” sang manajer meyakinkanya
sekali lagi.
Alisa menggelengkan kepalanya.
“Terimakasih atas tawaranya, tapi aku
punya alasanku sendiri. Lagipula, ini kesempatan yang selalu kunantikan selama
ini….” Alisa meminum kopi panasnya dengan perlahan di cangkirnya yang berwarna
putih. Sambil melihat pantulan dirinya sendiri dari jendela di samping tempat
ia duduk, dengan senyuman kecil sambil mengingat semua hal yang sudah ia lalui
selama ini. Apakah dia akan bisa menjawab semua pertanyaan yang belum pernah
terjawab oleh Ibunya? Atau dia akan berhenti di tengah jalan. Semuanya
tergantung di tangan Alisa, ia sudah bersiap dengan apapun yang akan terjadi.
Keesokan paginya ia berpamitan dengan
sang manager. Manager memberikanya sebungkus kopi susu bubuk kepadanya sebagai
tanda terimakasih telah bekerja denganya.
“Oh ya, kemana perginya si anak magang
itu? Aku tidak melihatnya seharian ini” Alisa bertanya.
“Oh anak itu, dia juga sudah tidak
lama lagi bekerja disini. Sepertinya dia sudah menemukan rumah baru,”
“Kalau begitu siapa yang akan mengurus
kafe nanti?”
“Tenang, Mas Fari dan aku akan kembali
bekerja seperti biasanya. Gini-gini aku juga masih kuat bekerja loh,” jelas
sang manager.
Alisa pun tertawa kecil dan berpamitan
sekali lagi denganya sebelum keluar pintu, ia penasaran kemana perginya anak
magang itu. Kemudian ia menunggu angkotan umum untuk pergi ke tujuan barunya,
Distrik Militer.
Sesampai disana, perhatianya tertarik
sebentar ke lingkungan disekitar. Tempat itu lebih luas dan tidak banyak
bangunan yang berdiri seperti di Distrik Pemukiman. Alisa mengikuti peta yang
terdapat di surat yang ia terima saat itu, Asrama terletak beberapa puluh meter
perjalanan ke utara. Dalam perjalananya ia melihat banyak lapangan luas yang
sepertinya menyatu dengan hutan di belakangnya. Alisa terus berjalan sampai
ketempat tujuanya, gedung asrama itu cukup besar yang terdiri dari 5 lantai.
Alisa melihat suratnya kembali, kamarnya menujukan angka 305 yang berada di
lantai 3. Setelah membuka pintu kamarnya, ia mendapati sebuah ruangan kosongan
yang sepertinya sudah lama tidak di tinggali. Alisa membuka kacanya lebar-lebar
sambil menghirup udara segar. Ia melihat terdapat sebuah halaman yang cukup
luas di belakang Asrama, sepertinya ada area khusus yang digunakan untuk tempat
berkebun.
Melihat kamarnya yang begitu kotor,
Alisa tidak punya pilihan lain untuk segera membersihkanya.
“Yaaah, mau bagaimana lagi. Inilah
tempat tinggal baru ku sekarang”.
Alisa meletakkan kopernya di ujung
ruangan dan ransel kecilnya di atas meja rias kecil. Kehidupan barunya telah di
mulai dari sekarang.
.
.
End.
PROJECT WARFARE – ALISA FERMILA . NEW
LIFE – COMPLETE
Project By : Arez <Berserker>
Written by : Vink <LVL>
Art by : Dawnzz
Published : 29 August 2021